Tahun Ini, Pasar Apartemen Jatim Diperkirakan Masih Melambat

Pengusaha properti di Jawa Timur menilai pasar properti terutama segmen apartemen tahun ini masih akan mengalami perlambatan karena masih belum pulihnya daya beli masyarakat.
Peni Widarti | 06 Februari 2018 18:01 WIB
Salah satu sudut kota Surabaya, Jawa Timur - Antara/Zabur Karuru

Kabar24.com, SURABAYA - Pengusaha properti di Jawa Timur menilai pasar properti terutama segmen apartemen tahun ini masih akan mengalami perlambatan karena masih belum pulihnya daya beli masyarakat.

Wakil Ketua Bidang Pembangunan dan Pengelolaan Apartemen, Persatuan Perusahaan Real Estat Indonesia (REI) Jatim, Triandy Gunawan mengatakan sejak tahun lalu daya beli masyarakat di sektor properti seakan lesu. Kondisi tersebut membuat penjualan properti ikut melemah.

"Namun sebenarnya daya beli masyarakat yang turun ini bukan karena mereka tidak ada uang. Justru mereka punya uang tetapi lebih memilih wait and see. Mereka ingin menunggu sesuatu yang dapat meyakinkan keuntungan jika mereka mengeluarkan uangnya," jelasnya di sela-sela acara Pembekalan Relawan-Penggiat Anti Narkoba dan Terorisme di Gunawangsa MERR, Selasa (6/2/2018).

Dia mengatakan pelemahan daya beli masyarakat untuk berinvetasi ini juga merupakan dampak dari kebijakan-kebijakan pemerintah dalam jangka pendek misalnya soal pengenaan pajak.

"Secara makro PPn kita naik, berarti kan ada pergerakan ekonomi kita bagus. Kalau ada orang transaksi kan PPn naik. Seharusnya ada daya beli di situ tetapi lebih banyak di sektor ritel," katanya.

Triandy menambahkan kondisi lesunya daya beli tersebut pun membuat sejumlah pengembang di Jatim sejak tahun lalu tiarap. Ada yang proyeknya tidak jalan meski sudah melakukan promo penjualan, ada juga yang tidak punya proyek baru atau hanya meneruskan proyek sebelumnya.

"Ada pengusaja yang tiarap, ada juga yang masih bertahan bahkan membuat proyek baru itu pengembang yang memang masih bagus kinerjanya misalnya seperti PP Properti, Ciputra. Intinya properti itu tidak berhenti, tapi hanya kurang agresif," ujarnya.

Triandy yang juga merupakan CEO Gunawangsa Group itu mengakui Gunawangsa sendiri tahun ini tidak membangun proyek baru, melainkan hanya meneruskan 2 proyek superblok sebelumnya yakni Gunawangsa Tidar dan Gunawangsa Gresik.

"Kita tidak bisa berhenti untuk membangun karena kita punya anak buah yang harus dihidupi. Mungkin untuk menggairahkan pasar, kita harus buat varian baru misalnya model cicilan murah dan mudah," imbuhnya.

Gunawanga Group tahun ini akan lebih banyak fokus membangun fasilitas tambahan dari kedua proyek tersebut, terutama untuk memenuhi sektor pasar ritel. Hingga saat ini sudah ada tenant di bidang food and beverage atau food court, hiburan karaoke, salon kecantikan, toko perkakas rumah tangga, dan arena bermain anak yang masuk untuk meramaikan superblok Gunawangsa.

"Dari 12.000 m2 yang disiapkan untuk tenant, kini sudah terisi 46%. Harapannya Agustus ini bisa terisi sampai 70%," imbuhnya.

Tag : bisnis properti, jatim
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top