Tren Bitcoin Picu Lonjakan Konsumsi Energi Kotor, Benarkah?

Bitcoin atau mata uang digital (cryptocurrency) telah memukau pasar global tahun ini dengan lonjakan yang luar biasa.
Aprianto Cahyo Nugroho | 15 Desember 2017 16:49 WIB
Ilustrasi - Pando

Bisnis.com, JAKARTA – Bitcoin atau mata uang digital (cryptocurrency) telah memukau pasar global tahun ini dengan lonjakan yang luar biasa. Investor berbondong-bondong membeli ‘aset’ yang hanya ada di dunia maya ini.

Namun, sulitnya ‘menambang’ bitcoin oleh jaringan komputer memiliki konsekuensi dunia nyata dalam bentuk lonjakan konsumsi energi listrik, terutama yang bersumber dari energi tak ramah lingkungan.

Delapan gudang dengan panjang masing-masing 100 meter di China utara menjadi salah satu contohnya. Bangunan milik Bitmain Technologies Ltd. ini berisi server dengan total 25.000 komputer yang digunakan untuk memecahkan perhitungan terenkripsi yang menghasilkan bitcoin.

Seluruh kegiatan ini beroperasi menggunakan listrik yang bersumber dari pembangkit tenaga batu bara. Jumlah ‘tambang’ bitcoin seperti ini juga terus meningkat di China, seiring dengan meningkatnya popularitas mata uang digital ini.

Berdasarkan Digiconomist Bitcoin Energy Consumption Index, konsumsi listrik secara global untuk kegiatan ini sudah setara dengan dengan listrik untuk 3 juta rumah di Amerika Serikat. Semakin banyak bitcoin yang tercipta, tingkat kesulitan penghitungan untuk menghasilkannya juga meningkat, otomatis konsumsi listrik juga melonjak..

"Bitcoin (dan mata uang digital pada umumnya) telah menjadi hal yang kotor untuk diproduksi," ungkap Christopher Chapman, analis Citigroup Inc, seperti dikutip Bloomberg.

Harga bitcoin telah melonjak lebih dari 2.000% tahun lalu dan menyentuh rekor lebih dari US$17.500 pekan ini. CBOE Global Markets Inc. mulai menawarkan perdagangan berjangka bitcoin pada 11 Desember lalu dan harga melonjak ke US$18.850 pada hari pertama perdagangan.

Selain bitcoin, ada sejumlah cryptocurrency lain yang cukup diminati seperti ehtereum dan litecoin, namun bitcoin masih menjadi mata uang digital dengan jumlah transaksi terbesar.

China, yang 60% tenaga listriknya dihasilkan dari pembnangkit bertenaga batu bara, merupakan operator komputer "tambang" terbesar dan mungkin menyumbang sekitar seperempat dari seluruh konsumsi listrik yang digunakan untuk menciptakan cryptocurrency, menurut sebuah riset yang diterbitkan pada bulan April oleh Garrick Hileman dan Michel Rauchs dari Universitas Cambridge.

Menurut riset tersebut, sekitar 58% dari jaringan penghasil mata uang digital berada di China, diikuti oleh AS dengan 16%, dan 26% di negara lain. China adalah produsen dan konsumen batubara terbesar di dunia, dan server penambang di provinsi seperti Xinjiang, Inner Mongolia dan Heilongjian sangat bergantung pada komoditas ini.

Peningkatan Permintaan

Perkiraan mengenai berapa banyak listrik yang dibutuhkan untuk menciptakan cryptocurrency sangat bervariasi, dari output satu reaktor nuklir besar hingga konsumsi seluruh populasi di Denmark. Namun, pada analis sepakat bahwa konsumsi listrik industri ini berkembang dengan cepat, terutama lonjakan harga hingga hampir empat kali lipat dalam waktu hanya tiga bulan.

Total penggunaan listrik pada tambang bitcoin telah meningkat 30% dalam satu bulan terakhir, menurut Alex de Vries, seorang analis blockchain dari Pricewaterhouse Coopers.

"Konsumsi energi kotor (untuk tambang bitcoin) luar biasa. Jika kita mulai menggunakan cryptocurrency dalam skala global, planet ini akan hancur," kata de Vries, yang memulai blog Digiconomist untuk menunjukkan potensi jebakan dalam cryptocurrency.

Beberapa analis menolak klaim tersebut dan menganggapnya terlalu berlebihan, karena penggunaa Bitcoin untuk transaksi hanya sekitar 0,1% dari total transaksi global. Selain itu, kemajuan teknologi juga bisa dapat membuat transaksi lebih efisien dan hemat energi.

Namun, biaya untuk menciptakan cruptocurrency terus meningkat karena kebutuhan energi juga naik. Penambang bitcoin berskala besar akan mencari biaya energi termurah untuk mengatasi volatilitas harga. Biaya listrik di China, yang memiliki kelebihan kapasitas pembangkit tenaga batu bara dan cadangan bahan bakar yangbesar, jauh lebih murah daripada di AS atau Eropa.

Kepala riset dan investasi di ETF Securities Ltd, James Butterfill mengatakan algoritma Bigoic menentukan bahwa setelah sejumlah token tercipta, diperlukan lebih banyak pekerjaan yang dibutuhkan untuk batch berikutnya.

Dengan menggunakan perkiraan harga listrik dan tingkat kesulitan yang selalu meningkat untuk mendapatkan Bitcoin, Butterfill memperkirakan biaya setiap bitcoin akan meningkat lebih dari dua kali lipat dari US$6.611 pada kuartal keempat menjadi US$14.175 pada kuartal kedua tahun 2018.

Pada awal tahun 2017, biaya ini mencapai US$2.856. Dengan kenaikan biaya tersebut, ada risiko yang lebih besar bagi pada penambang jika harga turun.

Namun, tidak semua penambangan mata uang digital tak ramah lingkungan. Komputer ‘tambang’ di Islandia mendapatkan tenaga dari pembangkit listrik tenaga panas bumi. Bahkan di China, ada pula tambang yang menggunakan listrik dari pembangkit listrik tenaga air di Sichuan dan Yunnan.

Selain itu, Hydrominer IT-Services GmbH di Austria menempatkan server di dalam pembangkit listrik tenaga air. Pendiri perusahaan, Michael Marcovici mengatakan itu adalah opsi termurah yang dapat digunakan perusahaan yang mulai melakukan aktivitas penambangan sejak 2013 ini.

"Terus terang, kami tidak memulai ini sebagai proyek lingkungan. Sayang sekali kabar buruk tentang energi kotor ini terus berlanjut. Orang tidak ingin energi kotor digunakan. Tapi masalahnya, di Eropa, energinya terlalu mahal," kata Marcovici.

Tag : bitcoin
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top