Tahun Depan, Jatim Perlu Perkuat Sektor Pertanian

Provinsi Jawa Timur pada tahun depan perlu memperkuat sektor pertanian dengan memperluas lahan tanam dan produktivitas tanaman mengingat sektor tersebut cukup mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Jatim tahun ini.
Peni Widarti | 13 Desember 2017 20:01 WIB
Buruh tani memanen jagung manis di lahan pertanian jagung - ANTARA/Aloysius Jarot Nugroho

Kabar24.com, SURABAYA - Provinsi Jawa Timur pada tahun depan perlu memperkuat sektor pertanian dengan memperluas lahan tanam dan produktivitas tanaman mengingat sektor tersebut cukup mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Jatim tahun ini.

Kepala Bank Indonesia Perwakilan Jawa Timur, Difi Ahmad Johansyah mengatakan kinerja sektor pertanian secara statistik di sepanjang tahun ini memang turun yang disebabkan oleh anomali cuaca.

"Pertanian ini menjadi pekerjaan rumah bagi kita untuk membangkitkannya kembali karena selama ini pertanian menjadi pilar utama Jawa Timur," katanya di sela-sela Pertemuan Tahunan Bank Indonesia 2017 dan Outlook Perekonomian 2018, Rabu (13/12/2017).

Difi mengatakan selain pengembangan lahan, sektor pertanian juga bergantung pada perkembangan harga-harga komoditas. Bila harga meningkat otomatis kinerja pertanian juga akan meningkat.

"Namun sebetulnya yang paling menggangu adalah masalah cuaca yang susah diramalkan. Kita berharap lahan pertanian itu jangan banyak dikonversi menjadi lahan non pertanian karena selama ini setiap tahun ada 1.000 ha lahan berubah fungsi," jelasnya.

Difi menambahkan meski fungsi BUMD sangat menunjang harga komoditas pertanian dan sistem distribusinya tetapi produksi tanaman pangan tetap bergantung pada jumlah lahan, produktivitas serta tenaga ahli yang ada di pertanian.

Meski begitu, Bank Indonesia memprediksi perekonomian Jawa Timur pada tahun depan diproyeksi akan tumbuh 5,2% hingga 5,6% seiring dengan tingkat kepercayaan inevstor menanamkan modalnya di Jawa Timur, termasuk gencarnyaa pembangunan infrastruktur jalan tol dan fasilitas lainnya.

Difi menambahkan perekonomian Jatim akan kembali normal lagi seperti sebelumnya dan bisa tumbuh di antara angka tersebut dengan asumsi ekspor Jatim kembali meningkat.

"Yang mendorong perekonomian Jatim ini banyak faktornya termasuk tingkat konsumsi masyarakat. Selain itu kita melihat kepercayaan asing yang tinggi dan kemudian investasi non fasilitas juga bagus," katanya.

Adapun pada 2017 Jatim mencatatkan 3 sektor dominan yang mendukung pertumbuhan ekonomi tahun ini adalah industri 28,79%, perdangangan 18,25%, lainnya 39,41%. Sedangkan pertanian berkontribusi hanya 13,55%.

Dalam kesempatan yang sama Gubernur Jawa Timur Soekarwo mengatakan tiap sektor punya tantangan tahun depan yakni sektor industri seperti ketersediaan bahan baku yang masih impor hingga 80%, regulasi pertembakauan yang memberatkan industri berbahan baku tembakau.

Sedangkan sektor perdagangan yakni ekspor yang melambat tahun ini dengan indeks tendensi konsumen menurun. Sementara sektor pertanian yakni anomali cuaca.

"Pertanian memang ngedrop tumbuhnya dari 2,8% jadi 2,2%. Ini karena cuaca. Tapi, untuk pertanian kami arahkan menuju hilirisasi agar petani tidak jual gabaj tetapi jual padi supaya ada nilai tambah," ujarnya.

Tag : jatim, pertanian
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top