14 Penjaga Perdamaian PBB dan 5 Anggota Angkatan Udara Kongo Tewas

PBB klaim sedikitnya 14 penjaga perdamaian PBB dan lima anggota angkatan udara Kongo tewas dalam serangan yang terjadi di Republik Demokratik Kongo (DRC) pada serangan terburuk dalam sejarah.
Nirmala Aninda | 09 Desember 2017 17:47 WIB
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres. - Reuters

Kabar24.com, KIVU - PBB klaim sedikitnya 14 penjaga perdamaian PBB dan lima anggota angkatan udara Kongo tewas dalam serangan yang terjadi di Republik Demokratik Kongo (DRC) pada serangan terburuk dalam sejarah.

PBB mengatakan bahwa setidaknya 53 penjaga perdamaian juga terluka dalam serangan di Kivu Utara pada Kamis (6/12/2017) malam.

Antonio Guteress, Sekretaris Jenderal PBB, mengutuk keras serangan yang dilaporkan dilakukan oleh kelompok rebel Allied Democractic Forces.

"Serangan yang disengaja terhadap pasukan penjaga perdamaian PBB tidak dapat diterima dan merupakan kejahatan perang. Saya meminta pihak berwenang DRC untuk menyelidiki kejadian ini dan dengan cepat membawa pelaku ke pengadilan. Tidak boleh ada impunitas untuk serangan semacam itu, di sini atau di tempat lain," ujarnya dikutip melalui Al Jazeera, Sabtu (9/12/2017).

Serangan tersebut terjadi di sebuah pangkalan di Beni, Kivu Utara, milik Misi Stabilisasi Organisasi PBB di Republik Demokratik Kongo (MONUSCO). Daerah tersebut telah berulang kali diserang oleh pemberontak ADF.

Farhan Haq, juru bicara wakil PBB, mengatakan bahwa pasukan penjaga perdamaian tersebut kebanyakan berasal dari Tanzania. Kantor berita Associated Press melaporkan dengan mengutip sebuah stasiun radio di wilayah tersebut, yang mengutip sumber militer, bahwa pertempuran tersebut berlangsung selama empat jam.

Maman Sidikou, kepala MONUSCO, mengatakan bahwa misi tersebut "akan mengambil semua tindakan untuk memastikan bahwa pelaku bertanggung jawab dan dibawa ke pengadilan".

Guterres menyebut insiden tersebut sebagai "serangan terburuk" pterhadap pasukan penjaga perdamaian PBB dalam sejarah PBB baru-baru ini.

Belum lama ini setidaknya empat penjaga perdamaian dan seorang tentara Malia tewas dalam dua serangan terpisah di Mali utara pada September silam.

MONUSCO mengambil alih dari operasi pemelihara perdamaian PBB sebelumnya di Kongo pada bulan Juli 2010.

Bagian dari mandatnya mencakup "perlindungan warga sipil, personil kemanusiaan dan pembela hak asasi manusia dan untuk mendukung pemerintah DRC dalam upaya konsolidasi stabilisasi dan perdamaian".

Menurut angka yang dimiliki PBB, hampir 300 penjaga perdamaian telah terbunuh sejak misi awal dimulai pada tahun 1999.

 

Tag : kongo
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top