Gara-gara Penyelidikan FBI, Dukungan Untuk Trump Merosot ke Level Terendah

Tingkat dukungan untuk Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump turun ke level terendahnya, seperti ditunjukkan sebuah jajak pendapat nasional pada Kamis (7/12) waktu setempat.
Renat Sofie Andriani | 08 Desember 2017 15:56 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump. - Reuters/Carlos Barria

Kabar24.com, JAKARTA – Tingkat dukungan untuk Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump turun ke level terendahnya, seperti ditunjukkan sebuah jajak pendapat nasional pada Kamis (7/12) waktu setempat.

Dari 1.503 responden yang disurvei, sebanyak 32% menyetujui cara Trump menangani tugasnya sebagai presiden. Menurut jajak pendapat terkini yang dilakukan Pew Research Center, angka ini adalah tingkat terendah yang dicapai sejak Trump memimpin AS.

Dukungan terhadap Presiden AS ke-45 ini sebelumnya mencapai 34% pada bulan Oktober dan 39% pada bulan Februari, beberapa pekan setelah pelantikannya pada 20 Januari.

Jajak pendapat Pew Research juga menunjukkan penurunan dukungan di antara anggota Partai Republik. Saat ini, terdapat 76% anggota Partai Republik yang berkenan dengan kinerja presiden, turun dari 84% pada bulan Februari.

“Sejak Trump menjadi presiden, rating dukungan atas kinerjanya lebih terpolarisasi dibandingkan dengan para pendahulunya selama tahun pertama mereka memimpin. Hal itu tetap terjadi sampai hari ini, namun ratingnya hari ini lebih rendah di antara orang-orang Republik daripada bulan Februari,” papar Pew dalam laporannya, seperti dikutip dari CNBC, Jumat (8/12/2017).

Jajak pendapat tersebut dilakukan setelah penyelidikan oleh mantan Direktur Biro Investigasi Federal (FBI) Robert Mueller menghasilkan dakwaan terhadap mantan manajer kampanye kepresidenan Trump Paul Manafort dan salah satu mitra bisnisnya Rick Gates.

Terdapat juga pengakuan dari mantan penasihat kampanye George Papadopoulos serta mantan Penasihat Keamanan Nasional Michael Flynn.

“Survei dilakukan ketika penasihat keamanan nasional Trump, Michael Flynn, mengaku bersalah telah berbohong tentang kontak dengan pejabat Rusia selama masa transisi kepresidenan,” jelas Pew, seperti dikutip dari Newsweek.

Sekitar sehari sebelum jajak pendapat itu dilaporkan, Trump secara resmi mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Dalam pidatonya di Gedung Putih pada Rabu (6/12) waktu setempat, Trump mengumumkan saatnya untuk secara resmi mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan bahwa AS akan memulai proses pemindahan kedutaan besarnya ke kota tersebut.

Langkah Trump ini dikhawatirkan dapat memicu kekerasan baru sekaligus mengubur harapan penyelesaian konflik antara Israel dan Palestina. Sejumlah pemimpin dunia serta merta mengecam keputusan Trump.

Mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel penuh dengan implikasi agama dan politik karena sektor timur kota tersebut, tempat beberapa situs kuno tersuci dalam agama Yahudi, Kristen, dan Islam, juga diklaim oleh warga Palestina sebagai ibu kota negara di masa depan.

Masyarakat internasional menganggap sektor timur Yerusalem sebagai wilayah yang diduduki dan berpendapat bahwa status terakhir Yerusalem harus dinegosiasikan, tidak diumumkan secara sepihak. Walau memancing kecaman dunia, Presiden AS Donald Trump menegaskan pentingnya mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

 

Tag : Donald Trump
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top