Kevin O’Leary: Bitcoin Salah Satu Aset Tersukses di Planet Bumi

Lonjakan baru-baru ini pada bitcoin berikut pro dan kontra yang menyertainya mendorong seorang investor berupaya mengungkapkan pengalamannya serta meluruskan beberapa hal.
Renat Sofie Andriani | 08 Desember 2017 15:17 WIB
Ilustrasi bitcoin. - Reuters/Dado Ruvic

Kabar24.com, JAKARTA – Harga bitcoin secara mengejutkan menembus US$19.000 bahkan sempat menyentuh level tertingginya di US$19.340 pada Kamis (7/12), sebelum kemudian turun.

Lonjakan baru-baru ini pada bitcoin berikut pro dan kontra yang menyertainya mendorong seorang investor berupaya mengungkapkan pengalamannya serta meluruskan beberapa hal.

“Ini [bitcoin] bukan mata uang, terlalu volatil untuknya. Saya tidak menganggapnya sebagai mata uang dan saya akan menjelaskan mengapa,” ujar investor yang juga dikenal sebagai bintang reality show untuk para entrepreneur ‘Shark Tank’ Kevin O’Leary, seperti dikutip dari CNBC, Jumat (8/12/2017).

Dia mengungkapkan pengalaman yang mengajarkannya secara langsung masalah terkait volatilitas bitcoin.

“Baru-baru ini saya mencoba menyelesaikan sebuah transaksi senilai sekitar US$200.000 dengan bitcoin. Ini adalah transaksi internasional dengan suatu entitas Eropa dan saya waktu itu menyarankan ‘Mengapa kita tidak mencoba bitcoin?’” tutur O'Leary.

“Manfaat penggunaan bitcoin adalah menghilangkan kerumitan pertukaran mata uang dan proses kliring uang melalui bank. Anda hanya perlu membeli bitcoin senilai US$200.000 dan kemudian mengirimkannya,” jelasnya.

Namun selanjutnya ada masalah. Entitas yang ingin dibayarkan meminta O'Leary untuk menjamin nilai bitcoin terhadap nilai dolar AS.

“Dengan kata lain, saya harus menjaminkannya [bitcoin] karena, seperti yang Anda tahu, sangat tidak stabil,” kata O'Leary.

Kekhawatiran tersebut dapat dipahami, apalagi mengetahui harga bitcoin telah bergerak tajam dalam beberapa hari terakhir. Setelah menembus US$19.000 pada perdagangan di bursa penukaran Coinbase, harga bitcoin kemudian turun lebih dari 20% menjadi di atas US$15.000.

Padahal, pada Selasa (5/12) bitcoin baru saja menembus US$12.000.

Bayangkan jika O'Leary membayar rekannya di Eropa tersebut dengan bitcoin senilai US$200.000 pada hari Kamis ketika harga bitcoin diperdagangkan di atas US$19.000 yang jika dikalkulasikan setara dengan kira-kira 10,53 bitcoin. Namun tak lama setelahnya, nilai jumlah bitcoin tersebut turun menjadi hanya sekitar US$160.000.

Ia kemudian memutuskan tidak ingin mengambil risiko dari perubahan nilai yang drastis. Pengalaman itu mengajarkannya bahwa bitcoin tidak bekerja sebagai mata uang.

“Jelas, kedua belah pihak tidak berpikir akan cukup stabil untuk melakukan transfer dalam satu menit, mereka bahkan tidak ingin mengambil risiko barang hanya satu menit, itu bukan mata uang,” papar O’Leary.

Faktanya adalah pergerakan bitcoin sangat tidak stabil, dengan volatilitas dua arah, naik dan turun, yang tidak ada seorang pun dalam transaksi substantif akan mengambil risiko itu.

“Namun, apakah itu [bitcoin] sebuah aset? Ya, ini adalah salah satu aset paling sukses di planet saat ini seiring dengan adanya spekulasi global,” lanjutnya.

Tidak seperti mata uang, yang digunakan untuk menentukan dan menukarkan nilai, suatu aset memiliki nilai inheren sendiri berdasarkan apa yang orang akan bayarkan untuknya.

Sebelumnya, bintang ‘Shark Tank’ yang lain yakni Mark Cuban menjelaskan kepada Vanity Fair bahwa bitcoin seperti mengumpulkan benda seni ataupun kartu baseball. “Ada sesuatu yang bernilai dari apa yang orang lain akan bayarkan untuknya,” ungkap Cuban.

Tapi seperti halnya lukisan, nilainya sulit untuk ditunjukkan. Saat harga bitcoin terus melonjak, O'Leary pun menyarankan sikap hati-hati terkait nilai bitcoin.

“Saya tidak tahu nilainya, begitu juga dengan orang lain. Volatilitas membuat sangat sulit bagi saya sebagai investor untuk memasukkannya ke dalam portofolio. Jadi bagi saya, ini adalah spekulasi.”

Tag : bitcoin
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top