PROYEKSI 2018: Sektor Konstruksi Asia Tenggara Berpotensi Dapatkan Momentum Positif

Kinerja saham perusahaan sektor konstruksi di Asia Tenggara diperkirakan akan mengalami kenaikan pada tahun depan.
Yustinus Andri DP | 08 Desember 2017 14:33 WIB
Pekerja PT Nusa Konstruksi Enjiniring Tbk (NKE) menyelesaikan pembangunan gedung World Capital Tower (WCT) setinggi 54 lantai milik Pollux Properties Group, di Mega Kuningan, Jakarta, Rabu (13/9). - ANTARA

Bisnis.com, JAKARTA—Kinerja saham perusahaan sektor konstruksi di Asia Tenggara diperkirakan akan mengalami kenaikan pada tahun depan. Hal ini berpotensi menjadi titik cerah bagi sektor tersebut yang sepanjang tahun ini memiliki kinerja yang tak terlalu mencolok.

Hal itu tak lepas dari rencana pemerintah negara-negara di Asia Tenggara pada tahun depan yang secara bersamaan, memutuskan untuk memacu belanja infrastrukturnya. Berdasarkan data dari Bloomberg, setidaknya dana US$323 miliar telah disiapan oleh pemerintah di kawasan tersebut untuk proyek infrastrukturnya.

Seperti sepanjang tahun ini, saham-saham konstruksi gagal mengikuti pergerakan positif dari Indeks MSCI Asean. Berdasarkan data Bloomberg, pergerakan saham konstruksi pada bulan ini berakhir pada kisaran 5%-10%. Sementara itu, Indeks MSCI Asean cenderung terus naik dengan menembus 20%. Adapun, kenaikan indeks saham gabungan Asia Tenggara tersebut lebih banyak didorong oleh saham-saham teknologi, yang menjadi primadona sepanjang tahun ini.

Filipina diperkirakan akan menjadi negara paling agresif dalam memacu belanja infrastruktur pada 2018. Dalam hal ini Presiden Filipina Rodrigo Duterte telah mengalokasikan dana  hingga US$180 miliar untuk program nasionalnya tersebut.  

Pada saat yang sama, Malaysia dan Thailand juga telah mengagendakan peningkatan anggaran belanja infrastruktur. Langkah itu dilakukan salah satunya dikarenakan kedua negara tersebut bakal mengelar pemilihan umum pada tahun depan.

Peningkatan belanja infrastruktur sendiri, dinilai sebagai salah satu kebijakan populis. Pasalnya, langkah itu selain dianggap dapat meningkatkan konektivitas, juga dinilai sebagai salah satu motor untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Di kawasan ini, pertumbuhan ekonomi dinilai sebagai salah satu indikator kesuksesan bagi sebuah rezim.

Sementara itu, langkah Filipina, Malaysia dan Thailand tersebut secara otomatis membuat mereka bergabung dengan negara-negara Asia Tenggara lain, yang lebih dulu meningkatkan belanja infrastrukturnya. Adapun, negara-negara tersebut adalah Indonesia, Vietnam dan Indonesia.

“Alokasi ke infrastruktur telah meningkat di kawasan ini, mulai dari proyek air bersih, energi, jalan raya, pelabuhan, hingga kereta api. Ada banyak peluang. Kondisi ini sebaiknya dimanfaatkan oleh para investor untuk mengamati proses eksekusi rencana tersebut,” kata Ashish Goyal, Kepala Pasar Negara Berkembang NN Investment Partners ( S) Ltd., seperti dikutip dari Bloomberg, Jumat (7/12/2017).

Goyal menambahkan, tren yang bakal terjadi di Asia Tenggara tersebut diharapkan akan mengerek keuntungan bagi perusahaan konstruksi di kawasan ini. Pasalnya, sektor tersebut akan menjadi yang paling terlibat secara langsung dalam program ambisius pemerintah.

Hal senada pun diungkapkan oleh UBS Group AG dalam risetnya. Lembaga keuangan tersebut mengatakan, perubahan kebijakan pemerintah Asia Tenggara pada tahun depan akan menjadi salah satu tema besar di pasar global.

“Infrastruktur akan menjadi tema besar pada 2018. Pasalnya, sentimen positif dari pertumbuhan perdagangan global mungkin akan mulai memudar. Sebagai gantinya infrastruktur akan menjadi kekuatan ekonomi baru kawasan ini,” tulis Ian Gisbourne, salah satu analis UBS Group

Sumber : bloomberg

Tag : konstruksi
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top