BITCOIN: Meroket Tajam, ‘Alarm Peringatan Makin Nyaring’

Para pengamat dan investor menyebutkan, alarm peringatan terhadap Bitcoin semakin nyaring berbunyi setelah, nilai tukarnya meroket terlampau tajam.
Yustinus Andri DP | 08 Desember 2017 13:53 WIB
Mata uang virtual Bitcoin - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA—Para pengamat dan investor menyebutkan, alarm peringatan terhadap Bitcoin semakin nyaring berbunyi setelah, nilai tukarnya meroket terlampau tajam.

Mereka menyebutkan, harga Bitcoin berpotensi menjadi gelembung baru di pasar global. Pasalnya,  kenaikannya yang terlampau tinggi, sebagian besar didorong oleh aksi spekulasi. Hal itu membuat mata uang virtual (cryptocurrency) tersebut rentan terpapar pembalikan tajam akibat aksi para spekulan.

“Bitcoin tetap menjadi pertaruhan utama bagi investor. Sebab mata uang tersebut aalah aset yang saat ini berada pada area yang belum dipetakan. Kami pun belum pernah melihat dan mengalami peristiwa serupa Bitcoin ini,” kata Nigel Green, pendiri dan Chief Executive deVere Group, seperti dikutip dari Reuters, Jumat (8/12/2017)

Seperti diketahui, harga Bitcoin telah melambung ke atas US$16.000 pada Jumat (8/12/2017). Di bursa Bitstamp yang berada di Luksemburg, nilai Bitcoin sempat mencapai US$16.615,62  dan ditutup pada level US$16.607,14. Bahkan, angkanya sempat tembus US$19.000 pada perdagangan kemarin waktu setempat sebelum turun lagi 20%.

Level tersebut menguat sekitar 67% selama satu pekan terakhir. Selain itu, cryptocurrency terbesar di dunia tersebut telah melonjak tujuh belas kali lipat nilainya sepanjang tahun ini.

Hal itu memunculkan perdebatan di pasar, apakah mata uang virtual tersebut akan menjadi ‘semakin panas’ dan membuat gelembung (bubble)yang ada saat ini meledak. Sebagai catatan, berdasarkan data dari Coinmarketcap, nilai kapitalisasi pasar Bitcoin kini mencapai US$305 miliar. Capaian tersebut melampaui, nilai pasar salah satu perusahaan paling bernilai di AS yakni Wal-Mart Stores Inc dengan US$288 miliar.

"Selain itu, nilai aset yang berjalan hampir vertikal biasanya akan menaikkan potensi berbunyinya lonceng alarm bagi investor," tambah Green.

Hingga saat ini, belum ada analis atau pengamat yang dapat benar-benar mengidentifikasikan sebab kenaikan tajam dari Bitcoin tersebut. Sejauh ini, mereka hanya melihat bahwa, pendorong utamanya adalah meningkatnya permintaan pada mata uang virtual tersebut.

Selain itu, dorongan lain datang dari keputusan sejumlah lembaga keuangan atau bursa derivatif yang berencana memasukkan Bitocin sebagai salah satu istrumen perdagangannya. Salah satunya akan dilakukan oleh Cboe Global Markets Inc pada pekan ini, dengan bursanya yang diberi nama Cboe Futures Exchange.

Selanjutnya, pada pekan depan langkah itu akan dilakukan juga oleh CME Group. Sementara itu Nasdaq Inc  tengah mempertimbangkan rencananya untuk mengadopsi strategi serupa mulai tahun depan.

Adapun, sejumlah  investor memperkirakan Bitcoin masih memiliki ruang untuk kembali melonjak  ke level yang lebih tinggi lagi pada tahun ini.

"Bitcoin masih berpeluang menembus US$ 20.000 karena banyak modal masu. Di sisi lain, Bitcoin masih menjadi mata uang yang paling aman dan paling likuid di dunia," kata David Drake, pendiri dan Kepala DLJ Capital.

Seperti diketahui, para pengguna dan investor Bitcoin mengatakan, mata uang virtual tersebut adalah media pertukaran yang baik dan aset yang paling aman untuk melindungi nilai, sama seperti logam mulia. Mereka juga berpendapat bahwa cryptocurency yang dijalankan dengan sistem blockchain jauh lebih baik daripada mata uang tradisional yang relatif tunduk pada manipulasi dan kebijakan bank sentral.

Sumber : Reuters

Tag : bitcoin
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top