Dikecam Soal Ritwit Video Antimuslim, Trump ‘Serang’ Balik PM May

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyerang balik Perdana Menteri Inggris Theresa May yang telah mengecamnya karena meritwit video antimuslim.
Renat Sofie Andriani | 30 November 2017 19:17 WIB
Presiden Amerka Serikat Donald Trump. - Reuters

Kabar24.com, JAKARTA – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump ‘menyerang’ balik Perdana Menteri Inggris Theresa May yang telah mengecamnya karena meritwit video antimuslim.

“@Theresa_May, jangan fokus pada saya, fokus saja pada Terorisme Islam Radikal menghancurkan yang terjadi di Inggris. Kami tidak ada masalah apapun!” cuit Trump dalam sebuah unggahan di akun Twitternya Rabu malam (29/11) waktu setempat, seperti dikutip dari Bloomberg.

Komentar pedas Trump keluar setelah May, melalui juru bicaranya, mengecam tindakan Trump meritwit tiga video antimuslim dari seorang pemimpin kelompok politik antiimigran, Britain First. Trump merasa tak terima dan meminta May memikirkan urusannya sendiri.

“Adalah salah jika presiden [Trump] melakukan ini [ritwit],” ujar juru bicara PM May, James Slack, kepada awak media di London.

Kelompok politik ultranasionalis itu diketahui menentang hal yang mereka sebut 'Islamisasi' di Inggris. Partai ekstrem sayap kanan Inggris tersebut pun dituding menggunakan narasi kebencian untuk menyebarkan kebohongan.

“Britain First berupaya memecah masyarakat dengan penggunaan narasi kebencian yang menggerakkan kebohongan serta memicu ketegangan,” tegas Slack.

Video grafis yang diritwit oleh Trump pertama kali diunggah di Twitter oleh Jayda Fransen, wakil pemimpin Britain First dan dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa umat Islam telah melakukan perbuatan jahat.

Ketiga video itu berjudul 'Muslim Destroys a Statue of Virgin Mary!', 'Islamist mob pushes teenage boy off roof and beats him to death!', dan 'Muslim migrant beats up Dutch boy on crutches!'

Fransen sendiri dalam akun Twitternya terlihat menyambut gembira ritwit Trump bahkan berterima kasih kepadanya karena telah menyebarkan pesan kelompok tersebut yang telah mendapatkan sekitar 44 juta followers.

Fransen saat ini diketahui dalam penahanan pihak kepolisian setelah ditangkap pekan lalu dalam sebuah aksi demonstrasi di Irlandia Utara. Dia akan hadir dalam persidangan bulan depan menghadapi tuntutan penggunaan kata-kata maupun sikap yang mengancam, kasar, dan menghina.

Tak hanya PM May, ritwit Trump rupanya memicu kemarahan pihak lain. Brendan Cox, suami mendiang Jo Cox dari Partai Buruh yang ditikam seorang pendukung sayap kanan sebelum referendum Brexit tahun lalu, mengecam tindakan Trump.

“Trump telah melegitimisasi sayap kanan di negerinya sendiri, sekarang dia berusaha melakukannya di negeri kita sendiri. Penyebaran kebencian memiliki konsekuensi dan presiden [Trump] harus malu pada dirinya sendiri,” kata Cox.

Di AS, beberapa anggota Partai Republik mengungkapkan telah jenuh dengan kontroversi seputar cuitan Trump. Perwakilan Partai Republik dari New York, Peter King, mengatakan kepada MSNBC bahwa ia didesak untuk memberi tahu Trump agar menghentikan cuitannya.

Dewan Hubungan Amerika-Islam, kelompok advokasi Muslim terbesar di AS, pun mengecam ritwit Trump tersebut sebagai hasutan untuk melawan Muslim Amerika.

Sementara itu, pihak Gedung Putih membela cuitan Trump dan mengklaim bahwa potensi ancaman dari video-video itu terlihat nyata meski video itu sendiri belum dapat dipastikan asal usul maupun kebenarannya.

“Ancamannya nyata, apa yang presiden bicarakan, kebutuhan akan keamanan nasional dan pengeluaran militer, itu adalah hal yang sangat nyata, tidak ada yang palsu mengenai hal itu,” ujar Sarah Sanders, juru bicara Gedung Putih.

Sanders tidak menjelaskan secara tepat yang dimaksudnya sebagai 'ancaman', namun Trump telah lama diketahui menggambarkan Islam sebagai bahaya bagi Amerika Serikat.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
islam, Donald Trump

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top