Trump Ritwit Video Antimuslim, PM Theresa May Gusar

Perdana Menteri Inggris Theresa May mengecam tindakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump meritwit tiga video antimuslim dari seorang pemimpin kelompok politik antiimigran.
Renat Sofie Andriani | 30 November 2017 08:08 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump. - REUTERS/Jonathan Ernst

Kabar24.com, JAKARTA – Perdana Menteri Inggris Theresa May mengecam tindakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump meritwit tiga video antimuslim dari seorang pemimpin kelompok politik antiimigran.

Kelompok politik ultranasionalis, Britain First, diketahui menentang hal yang mereka sebut 'Islamisasi' di Inggris. Juru bicara PM May pun menuding partai ekstrem sayap kanan Inggris tersebut menggunakan narasi kebencian untuk menyebarkan kebohongan.

“Britain First berupaya memecah masyarakat dengan penggunaan narasi kebencian yang menggerakkan kebohongan serta memicu ketegangan,” tegas juru bicara PM May dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip dari laman CNBC, Kamis (30/11/2017).

“Hal ini menyebabkan kegelisahan pada orang-orang yang taat hukum. Warga Inggris menolak retorika prasangka partai sayap kanan ini, yang merupakan antitesis dari nilai-nilai yang mewakili negara ini yaitu sopan santun, toleransi, dan rasa hormat. Adalah salah jika seorang presiden melakukan ini [ritwit],” lanjutnya.

Video grafis yang diritwit oleh Trump dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa umat Islam telah melakukan perbuatan jahat. Meski demikian, masih belum jelas asal usul video tersebut atau apakah orang-orang di dalamnya sebenarnya adalah Muslim atau migran, seperti yang dikatakan oleh wakil ketua Britain First, Jayda Fransen.

Ketiga video itu berjudul 'Muslim Destroys a Statue of Virgin Mary!', 'Islamist mob pushes teenage boy off roof and beats him to death!', dan 'Muslim migrant beats up Dutch boy on crutches!'

Fransen sendiri terlihat menyambut gembira ritwit Trump bahkan berterima kasih kepadanya karena telah menyebarkan pesan kelompok tersebut yang telah mendapatkan 44 juta follower. 

Dalam beberapa menit pasca ritwit Trump, banyak berita melaporkan bahwa video tersebut salah atau menyesatkan. Pihak Gedung Putih kemudian mengklaim bahwa tidak masalah apakah video-video itu nyata atau tidak, karena potensi ancaman darinya terlihat nyata.

“Ancamannya nyata, apa yang presiden bicarakan, kebutuhan akan keamanan nasional dan pengeluaran militer, itu adalah hal yang sangat nyata, tidak ada yang palsu mengenai hal itu,” ujar Sarah Sanders, juru bicara Gedung Putih.

Sanders tidak menjelaskan secara tepat yang dimaksudnya sebagai 'ancaman', namun Trump telah lama diketahui menggambarkan Islam sebagai bahaya bagi Amerika Serikat.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Donald Trump

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top