Gunung Agung Erupsi : Pelaku Pariwisata Ngaku Kesulitan Atur Wisatawan

Pelaku pariwisata di Bali mengaku kesulitan mengatur wisatawan yang menggunakan layanan Low Cost Carrier atau LCC sebab kondisi dan keberadaannya sangat sulit dideteksi.
Ni Putu Eka Wiratmini | 29 November 2017 14:01 WIB
Wisatawan mancanegara menunggu keberangkatan pesawat, di bandara Internasional Ngurah Rai, Bali, Selasa (28/11). - Bloomberg/Putu Sayoga

Kabar24.com, DENPASAR – Pelaku pariwisata di Bali mengaku kesulitan mengatur wisatawan yang menggunakan layanan Low Cost Carrier atau LCC sebab kondisi dan keberadaannya sangat sulit dideteksi.

Ketua Asosiasi Biro Perjalanan Wisata (Asita) Bali Ketut Ardana mengatakan setidaknya dari 18.000 rata-rata wisatawan yang masuk ke Bali setiap hari, 60% diantaranya merupakan wisatawan yang menggunakan layanan LCC.

Tipe wisatawan ini tidak menggunakan biro perjalanan wisata dan memanfaatkan bookingan secara online.

Dia mengkhawatirkan wisatawan ini tidak mendapat pelayanan sama seperti lainnya karena kurangnya informasi yang didapat mereka.

“Mereka tidak terdeteksi sehingga tetap datang ke airport padahal tutup, ini adalah tantangan bagi kami untuk memberikan pelayanan yang terbaik sehingga image Bali tetap baik,” sebutnya, Selasa (28/11/2017).

Ketua Gabungan Industri Pariwisata Bali IB Agung Parta mengatakan untuk membantu wisatawan jenis ini pihaknya telah meminta bantuan Pemerintah Badung dan Denpasar untuk menggelontorkan sejumlah dana guna menutupi kekurangan-kekurangan pelayanan yang telah disediakan hotel-hotel di Bali.

Kata dia, Pemerintah Badung memberikan bantuan dana sebesar Rp1 miliar dan Pemerintah Denpasar sebesar Rp100 juta untuk membantu wisatawan di Pulau Dewata.

“Jika ada yang tercecer siapa tahu ada tamu yang tinggal di airport ini yang kita bantu dan inilah uang kita gunakan untuk membiayai,” katanya

Sementara, kata dia, pelaku pariwisata di Bali juga sudah memberikan pelayanan semaksimal mungkin dengan memberi gratis menginap semalam dan diskon berdasarkan best available rate ke wisatawan.

“Apa yang selama ini kita dapatkan dari pariwisata tidak ada apa-apanya dengan yang kita keluarkan saat ini dengan memberi one night free maupun diskon, ya ini hanya receh yang kita keluarkan bagi pelaku pariwisata,” sebutnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
gunung agung

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top