Supaya Jadi Bangsa Maju, Guru Harus Bangkitkan Optimisme

Peringatan Hari Guru Nasional (HGN) pada 25 November sebaiknya dijadikan kesempatan untuk merancang postur guru nasional yang ideal untuk meningkatkan daya saing bangsa.
Nancy Junita | 28 November 2017 16:49 WIB
Gubernur Jawa Timur Soekarwo memberi sambutan pada peringatan Hari Guru Nasional sekaligus HUT ke-72 PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) dan Hari Aksara Internasional ke-54, di GOR Delta, Sidoarjo, Jawa Timur, Minggu (26/11). Peringatan Hari Guru Nasional sekaligus HUT ke-72 PGRI dan Hari Aksara Internasional ke-54 tersebut diselenggarakan dengan tema Membangkitkan Kesadaran Kolektif Guru dalam Meningkatkan Disiplin dan Etos Kerja untuk Penguatan Pendidikan Karakter. ANTARA FOTO - Umarul Faruq

Kabar24.com, JAKARTA - Peringatan Hari Guru Nasional (HGN) pada 25 November sebaiknya dijadikan kesempatan untuk merancang postur guru nasional yang ideal untuk meningkatkan daya saing bangsa.

Ketua Umum Ikatan Alumni Program Habibie (IABIE) Bimo Sasongko dalam keterangan tertulisnya, Selasa (18/11/2017) menuturkan, bahwa postur guru nasional yang jumlahnya sekitar tiga juta orang merupakan elemen bangsa yang sangat penting untuk membangun karakter dan rasa optimisme bangsa serta mencetak sumber daya manusia (SDM) unggul.

Menurut Bimo guru berperan startegis menggelorakan optimisme, karena optimisme adalah kunci proses memajukan bangsa. Apalagi pada saat ini media pemberitaan dipenuhi oleh berita kelabu yang menyesakkan dada. Kasus korupsi, ketimpangan sosial dan pergulatan politik yang kurang fair serta menihilkan rasa keadilan kini mendominasi media mainstream dan sosial media.

“Hal itu telah mempengaruhi spirit kebangsaan dan menggerus energi kreatif bangsa. Padahal, daya kreativitas adalah kunci daya saing bangsa,” kata Bimo.

Menggelorakan optimisme Indonesia sebaiknya dijadikan agenda para guru dengan mengemukakan tajuk “Indonesia Good News” dengan program konkret berupa gerakan Indonesia berkreasi dan berinovasi, gerakan Indonesia produktif hingga gerakan Indonesia menggapai supremasi peradaban dan iptek dunia.

Para guru bisa mengatasi fenomena kegalauan bangsa yang terus menayang di hadapan publik. Tanpa energi optimisme rakyat, maka negara ini akan terus terpuruk.

Guru, ujar Bimo, memiliki peran strategis untuk menyadarkan bahwa Indonesia adalah negara besar dengan potensi luar biasa, namun belum didayagunakan seoptimal mungkin. Indonesia masih tumbuh di bawah kapasitasnya. Ibarat pabrik raksasa, namun kapasitas yang menganggur masih sangat besar dan harus segera dibangkitkan.

“Para guru mampu berperan mewujudkan gerakan Indonesia kreatif dan inovatif. Guru bisa mendorong kegiatan kreatif apapun bentuknya hingga menjadi entitas ekonomi yang tangguh. Kegiatan itu mendasarkan diri pada filosofi alamiah tentang kemampuan merakit pada embrio makhluk hidup setelah mengalami fertilisasi.”

Gen

Bimo menjelaskan gen yang mengatur dan mengendalikan proses dan kemampuan merakit diri sejak sel telur hingga terus membelah diri menjadi bentuk dan performansi yang paripurna disebut sebagai gen-gen homeotik.

Pada diri anak manusia, gen tersebut terletak dibagian tengah kromosom 12, yang bisa dianalogikan sebagai proses kreativitas alamiah yang sangat menakjubkan.

“Filosofi homeotik sebaiknya dijadikan landasan para guru untuk mengembangkan daya kreatif Indonesia Raya. Bermacam proses kreatif anak bangsa bisa membelah diri sesuai dengan karakter dan relevansinya masing-masing sehingga mampu memfasilitasi potensi lokal untuk bersaing secara global,” tukas Bimo.

Lebih lanjut Bimo menyebut jumlah guru yang memiliki Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan ( NUPTK) mencapai 3 juta orang. Jumlah tersebut sebagian besar sedang menunggu proses sertifikasi.

Banyak yang kurang menyadari bahwa standar profesi guru yang digariskan dalam Undang-undang No.14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen (UUGD) dengan cara uji sertifikasi sejatinya bukanlah tujuan akhir. Melainkan titik awal lintasan profesi guru untuk meningkatkan kompetensinya dengan progres yang lebih terukur.

Sebagai titik awal, sertifikasi mesti disertai dengan tingkat kesejahteraan dan pengembangan karir guru secara progresif. Para guru dari daerah yang memiliki prestasi tinggi berhak mendapat kesempatan untuk belajar di negara maju agar memiliki wawasan dan kompetensi kelas dunia.

Saatnya mewujudkan alokasi anggaran pendidikan yang benar-benar relevan dan tepat sasaran. PGRI yang menjadi wadah profesi guru sudah berkali-kali melakukan gugatan hukum terkait dengan implementasi anggaran pendidikan dalam APBN sebesar 20 persen seperti yang dinyatakan dalam UUD 1945.

PGRI melakukan gugatan lewat Mahkamah Konstitusi (MK) terkait implementasi 20 persen anggaran pendidikan secara tepat. Karena selama ini persentasi anggaran tersebut dalam praktiknya di daerah sering bias sasaran. Bahkan, anggaraan pendidikan banyak yang dimasukkan dalam pos dana alokasi umum (DAU), sehingga alokasinya kurang relevan untuk sektor pendidikan.

“Penting anggaran pendidikan dilaksanakan secara konsisten agar tidak ada lagi gedung sekolah yang bobrok dan semua guru kondisinya melek teknologi karena infrastruktur dan alat peraga pendidikan yang canggih bisa terpenuhi,” pungkas Bimo.

 

Tag : Hari Guru
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top