Benahi Industri Persuteraan, Pemerintah Petakan Permasalahan

Sektor hulu industri persuteraan menjadi titik fokus pemerintah dalam menggairahkan kembali produksi sutera Tanah Air secara berkelanjutan.
Amri Nur Rahmat | 27 November 2017 17:08 WIB
Pekerja memegang kepompong yang akan diolah menjadi benang sutra di Desa Ranggeang, Kecamatan Tinambung, Pelewali Mandar, Sulawesi Barat, Rabu (26/4). - Antara/Akbar Tado
Bisnis.com,MAKASSAR - Sektor hulu industri persuteraan menjadi titik fokus pemerintah dalam menggairahkan kembali produksi sutera di Indonesia secara berkelanjutan.

Upaya tersebut diawali dengan langkah pemetaan permasalahan yang memicu penurunan kinerja signifikan pada sektor hulu industri persuteraan di sentra produksi sutera.

Adapun sentra produksi sutera utama dalam negeri yang menjadi salah satu perhatian adalah Sulawesi Selatan yang memberikan kontribusi hingga 90% terhadap struktur produksi sutera nasional.

E. Ratna Utarianingrumpada, Direktur IKM Kimia, Sandang, Aneka dan Kerajinan Kemenperin, mengemukakan restrukturisasi pada sektor hulu dimaksudkan pula bisa menjamin pasokan bahan baku bagi industri turunan sutera yang sebagian besar bergerak pada bidang tekstil maupun produk tekstil di sisi hilir.

"Sehingga kami mulai mapping pokok permasalahan yang terjadi di hulu. Terkhusus di Sulsel yang menjadi sentra sutera di Tanah Air dengan komposisi hingga 90%. Kami berupaya mengembalikan kejayaan sutera Indonesia," katanya pada FGD Industri Persuteraan di Makassar, Senin (27/11/2017).

Gambaran industri persuteraan

Produksi Sutera Indonesia

2012

20 juta ton

2016

8 juta ton

 

Impor benang & kain sutera

2012

US$1,06 juta

2016

US$1,39 juta

 

Impor ulat sutera

2012

US$32.000

2016

US$1.00

Sumber : Inserco, Trade Map, Kemenperin, diolah.

Merujuk pada data International Sericultural Commision (Inserco), papar Ratna, produksi sutera Indonesia terus mencatatkan penurunan tajam dalam beberapa tahun terakhir.

Pada 2012, produksi sutera di Tanah Air menyentuh volume 20 juta ton dan terus menyusut pada tahun berikutnya serta hanya mencapai 8 juta ton pada 2016 dengan kecenderungan penurunan yang berlanjut pada tahun ini.

Di sisi lain, impor benang dan kain sutera justru menorehkan pertumbuhan yang sangat agresif, di mana pada 2012 hanya US$1,06 juta lalu melesat menjadi US$ 1,39 miliar pada akhir 2016 dan terus meningkat hingga saat ini.

Menurut Ratna, kondisi tersebut menggambarkan terjadi ketimpangan yang sangat lebar antara sektor hulu dan sektor hilir dalam industri persuteraan di Tanah Air.

"Bahan baku sutera dalam negeri tidak bisa memenuhi kebutuhan industri hilir yang sangat bergairah. Jika kondisi ini terus berlanjut, tentu akan mempengaruhi industri persuteraan dalam negeri," paparnya.

Melalui FGD yang diselenggarakan, lanjut Ratna, pihaknya merancang sejumlah langkah strategis dengan melibatkan kementerian terkait, pemerintah daerah di Sulsel, serta stakholder guna lebih merangsang sektor hulu agar bergairah terutama pada sisi produksi sutera.

Khusus di Sulsel, langkah rill bakal direalisasikan melalui perluasan lahan untuk budidaya pohon murbei, peningkatan kualitas kokon, ketersediaan varietas F1 yang berkualitas serta beberapa langkah lainnya melalui pola sinergitas.

Khusus untuk perluasan lahan murbei dilakukan dengan sinergi bersama Kementerian Kehutanan serta pemerintah daerah setempat terutama pada basis industri sutera di Sulsel yakni Wajo, Soppeng dan Enrekang.

"Ketersediaan lahan jadi permasalahan juga sebenarnya, karena pada daerah sentra produksi itu banyak terjadi alih fungsi lahan. Dari pohon murbei ke kakao karena alasan fluktuasi harga. Jadi kedepannya, kami dorong pula agar tercipta keberlanjutan dan jaminan bagi pembudidaya," papar Ratna.

Serangkaian hal tersebut diharapkan mampu menekan rantai distribusi bahan baku bagi industri kecil menengah (IKM) tekstil dan produk tekstil berbasis sutera.

Dalam kesempatan sama, Kepala Dinas Perindustrian Sulsel Ahmad Akil mengakui jika produksi komoditas sutera mengalami penurunan drastis yang disebabkan minimnya budi daya ulat sutera pada daerah berklaisifikasi sentra produksi sutera.

Meski tidak menyebutkan detail penurunan volume produksi sutera lokal Sulsel, dia menyebut persentase penurunan menyentuh di kisaran 80% secara rata-rata tahunan.

"Tetapi pada tahun ini, pemda yang menjadi sentra produksi sutera di Sulsel sudah pula berupaya mengembalikan kinerja produksi. Seperti Pemkab Wajo yang bahkan telah menyiapkan lahan 50.000 hektare untuk pohon murbei, pemda lainnya juga sudah menyatakan komitmennya," papar Akil.

Menurut dia, penurunan produksi bahan baku sutera lokal juga berpengaruh terhadap industri persuteraan Sulsel yang mulai bergantung pada importasi untuk produk tekstil olahan sutera.

Kendati demikian, dorongan pada sektor hilir juga dilakukan secara simultan melalui fasilitasi promosi bagi industri hilir agar mampu menjangkau pasar global terutama pada negara basis fesyen di dunia.

"Kami ingin agar industri persuteraan Sulsel bisa lebih kuat, budi daya, produksi di hulu bisa memasok kebutuhan hilir yang kemudian mendapatkan pasar perihal distribusi produk olahan," ujarnya. (*)

Gambaran industri persuteraan 

 

Produksi Sutera Indonesia

 

2012

20 juta ton

2016

8 juta ton

 

Impor benang dan kain sutera

2012

US$1,06 juta

2016

US$1,39 juta

 

Impor ulat sutera

2012

US$32.000

2016

US$1.00

 

Sumber : Inserco, Trade Map, Kemenperin, diolah.

Tag : Industri Sutera
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top