Kritik Partai Golkar, Siti Zuhro: Jangan Fokus Ke Setya Novanto, Ini Partai Besar

Pengamat politiik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro mengkritik Partai Golkar yang hanya berfokus kepada persoalan Ketua Umum Setya Novanto yang sudah ditahan dalam kasus kroupsi KTP-e.
John Andhi Oktaveri | 26 November 2017 12:33 WIB
Peneliti LIPI Siti Zuhro memberikan sosialisasi kepada para pemilih pemula dalam sosialisasi Pemilu 2014 di Monumen Pers Surakarta, Sabtu (8/3) - JIBI/Sunaryo Haryo Bayu

Bisnis.com, JAKARTA — Pengamat politiik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro mengkritik Partai Golkar yang hanya berfokus kepada persoalan Ketua Umum Setya Novanto yang sudah ditahan dalam kasus kroupsi KTP-e.

"Golkar seharusnya tidak terus menerus berfokus pada persoalan  Setya Novanto," ujarnya, di Jakarta, Minggu (26/11/2017).

Menurutnya, Golkar harus menggeser urusannya  ke persoalan institusi. Pasalnya partai politik tertua di Indonesia itu kini mulai terancam penurunan kepercayaan publik akibat sejumlah kadernya terjerat kasus korupsi.

“Bagaimana nantinya Golkar jauh lebih mumpuni sebagai institusi politik, itu yang paling penting untuk Golkar," ujar wanita yang akrab disapa Wiwik tersebut.

Masih kentalnya tarik menarik antara aspirasi musyawarah nasional luar biasa (Munaslub) dan  mempertahankan Novanto menunjukkan Golkar tidak lagi sejalan dengan jargon ’Suara Golkar Suara Rakyat’.

"Itu jelas sekali. Suara Golkar Suara Rakyat, hilang sama sekali ketika Golkar menafikan aspirasi rakyat," ujar Wiwik.

Dia  mengingatkan agar Golkar jangan terlalu lama berlarut-larut dalam politik yang dimainkan oleh Novanto. Partai berambang pohon beringin itu harus segera beranjak dan mulai fokus untuk memikirkan pilkada serentak 2018 dan Pemilu 2019.

Menurut Wiwik, Golkar harus bisa memikirkan solusi untuk melepaskan masalah personal Novanto. Posisi tersebut menjadi sangat penting. "Golkar  partai besar yang sangat berpengaruh terhadap stabilitas politik nasional," katanya.

"Harus dipikirkan bagaimana nasib Golkar 2018, pilkada serentak dan kesiapan menata diri dan mempromosikan calon-calon anggota legislatif dan calon presiden dan calon wakil presiden 2019," ujarnya.

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sudah dua kali menetapkan ketua DPR itu sebagai tersangka dalam kasus korupsi e-KTP. Sejumlah kader Golkar telah dipanggil sebagai saksi dan sebagian teah ditetapkan sebagai tersangka, termasuk Anggota DPR Markus Nari.

Kini Novanto mendekam dalam tahanan KPK setelah pada 10 November lalu kembali ditetapkan jadi tersangka meski sebelumnya sempat dinyatakan buron sebelum mengalami kecelakaan dan dirawat di rumah sakit.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
partai golkar

Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top