Begini Pentingnya Literasi Keuangan Bagi Tenaga Pendidik

Dalam rangka meningkatkan keuangan masyarakat Indonesia, diperlukan tingkat literasi dan inklusi keuangan yang merata. Oleh karena itu, tak hanya Otoritas Jasa Keuangan (OJK), penyedia jasa lainnya juga turut mengampanyekan pentingnya kedua hal tersebut.
Ramdha Mawaddha | 24 November 2017 01:49 WIB
Presdir Permata Bank Ridha Wirakusumah (kanan) memberikan edukasi literasi keuangan kepada anak-anak berkebutuhan khusus di SLB A Pembina Tingkat Nasional, Jakarta, Jumat (6/10). - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA - Dalam rangka meningkatkan keuangan masyarakat Indonesia, diperlukan tingkat literasi dan inklusi keuangan yang merata. Oleh karena itu, tak hanya Otoritas Jasa Keuangan (OJK), penyedia jasa lainnya juga turut mengampanyekan pentingnya kedua hal tersebut.

Termasuk oleh PermataBank yang saat ini jug mengampanyekan pentingnya literasi dan inklusi keuangan lewat pelatihan kepada tenaga pengajar tingkat SD hingga SMA. Pelatihan ini rutin di gelar dan telah merambah ke berbagai pelosok daerah, termasuk Jabodetabek, Yogyakarta, Nusa Tenggara Barat dan MalukunTenggara Barat.

Head of Corporate Affairs Permata Bank Richele Maramis mengatakan, salah satu tujuan dari Kemdikbud dan juga OJK adalah meningkatkan literasi dan inklusi keuangan. Bahkan, tambahnya, di 2019 ditargetkan inklusi keuangan mencapai 75%.

"Sekarang masih di 30%, jadi memang perlu banyak pihak menyumbang agar masyarakat semakin cerdas mengelola uang dan investasi,\" kata Richele di sela-sela seminar Guruku Permataku, Kamis (23/11/2017).

Untuk memberikan pemahaman literasi keuangan secara menyeluruh, para tenaga pengajar telah dibekali modul yang konfrehensif, mulai dari pengetahuan mendasar hingga tujuan yang ingin dicapai dalam masyarakat.

Richele mengatakan, pendidikan literasi keuangan sangat krusial untuk memberikan pemahaman pentingnya menabung dan investasi. Pada akhirnya, literasi keuangan tersebut bakal berdampak untuk masa depan terjamin bagi masyarakat dan sumbangsih untuk perekonomian negara.

\"Agar mereka juga bisa mengerti bahwa langkah kecil yang dilakukan sebenarnya bisa berdampak untuk ekonomi dan masa depan,\" ujarnya.

Richele mengatakan, literasi keuangan terutama di pelosok-pelosok memang masih rendah. Terbukti, masih banyak masyarakat, bahkan tenaga pendidik yang masih menabung uang dengan cara-cara konvensional. Salah satunya kebiasan menabung di bawah kasur atau di kaos kaki.

\"Menabung di bawah kasur, di kaos kaki masih ada di zaman sekarang. Mereka merasa aman dan berpikir untuk apa saya menyimpan uang kepada orang yang saya tidak kenal. Ini yang harus kami didik,\" ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
literasi keuangan

Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top