AS Keluarkan Travel Warning ke Arab Saudi

Departemen Luar Negeri AS pada Selasa (21/11/2017) memperingatkan warganya "mempertimbangkan bahaya" jika bepergian ke Arab Saudi karena ada ancaman gerilyawan dan serangan peluru kendali balistik terhadap warga oleh pemberontak di Yaman.
Newswire | 22 November 2017 18:30 WIB
Pengikut gerakan Houthi Syiah menaiki sebuah bulldozer yang mereka rebut dari polisi anti huru-hara di sepanjang jalan utama menuju bandara di Sanaa, Yaman. - Reuters

Bisnis.com, DUBAI -  Departemen Luar Negeri AS pada Selasa (21/11/2017) memperingatkan warganya "mempertimbangkan bahaya" jika bepergian ke Arab Saudi karena ada ancaman gerilyawan dan serangan peluru kendali balistik terhadap warga oleh pemberontak di Yaman.

Peringatan tersebut muncul dua minggu setelah Arab Saudi mengatakan menembak jatuh peluru kendali balistik, yang ditembakkan gerakan Houthi dukungan Iran dari Yaman menuju ibu kota Saudi, Riyadh.

Gerakan Houthi mengatakan peluncuran peluru kendali tersebut adalah tanggapan terhadap serangan udara pasukan sekutu pimpinan Saudi terhadap warga di Yaman. Peluru kendali tersebut ditembak jatuh di dekat bandar udara Riyadh tanpa menimbulkan korban.

"Ancaman teroris terus berlanjut terhadap seluruh wilayah di Arab Saudi, termasuk di kota besar, seperti, Riyadh, Jeddah, dan Dhahran. Serangan dapat terjadi tanpa peringatan lebih dulu di mana pun di negara tersebut," kata Departemen Luar Negeri dalam peringatan itu, yang juga ditulis dalam laman kedutaan AS.

"Kelompok teroris, termasuk kelompok garis keras di Irak dan Suriah (ISIS) dan jaringannya telah menyasar Saudi dan pemerintahan negara sekutu Barat, masjid dan tempat ibadah lainnya (baik Sunni dan Syiah), dan tempat-tempat yang sering dikunjungi oleh warga AS serta warga negara Barat lainnya," tambahnya.

Pada Oktober, dua penjaga Saudi ditembak hingga tewas dan tiga lagi terluka ketika seorang pria bersenjata memaksa masuk ke gerbang istana kerajaan di kota Jeddah dan melepaskan tembakan.

Arab Saudi memimpin persekutuan negara Arab dan mencampuri urusan di Yaman pada 2015, setelah Houthi menyerang kantor pusat pemerintahan sementara Presiden, yang diakui internasional, Abd-Rabbu Mansour Hadi di Aden, memaksanya melarikan diri.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
amerika serikat

Sumber : ANTARA/REUTERS
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top