KRISIS POLITIK ZIMBABWE: Munaslub Lengserkan Mugabe. Anggota Partai Bersorak Sorai

Partai berkuasa Zimbabwe ZANU-PF melengserkan Presiden Robert Mugabe dari posisi pimpinan partai, Minggu (19/11/2017).
Saeno | 19 November 2017 23:55 WIB
Delegasi Munaslub bersorak sorai usai melengserkan Presiden Robert Mugabe dari jabatan pimpinan Komite Pusat Partai ZANU-PF di Harare, Zimbabwe, Minggu 19 November 2017. - REUTERS/Philimon Bulawayo

Kabar24.com, HARARE – Nasib buruk menerpa penguasa Zimbabwe Robert Mugabe yang telah memimpin negeri itu selama 37 tahun.

Partai berkuasa Zimbabwe ZANU-PF melengserkan Presiden Robert Mugabe dari posisi pimpinan partai, Minggu (19/11/2017).

Hal itu membuat Mugabe yang kini berusia 93 tahun dan sudah berkuasa sekitar 37 tahun harus segera meninggalkan Istana Negara.

Mugabe hanya punya waktu kurang dari 24 jam untuk menanggalkan jabatan Kepala Negara secara terhormat jika ia tak ingin dimakzulkan.

Mugabe, satu-satunya pemimpin negara di kawasan Afrika Selatan berkuasa sejak Zimbabwe memperoleh kemerdekaan dari Inggris pada 1980, digantikan oleh Emmerson Mnangagwa, wakil yang dipecatnya bulan ini dalam sebuah langkah yang memicu intervensi tentara, Selasa lalu.

President Robert Mugabe (kanan) melihat ke arah Wakil Presiden Emmerson Mnangagwa yang sedang membacakan kartu ucapan selamat ulang tahun pada perayaan HUT ke-93 Mugabe di Harare, Zimbabwe, 21 Februari 2017./REUTERS-Philimon Bulawayo.

Dalam situasi yang tidak terpikirkan sebelumnya, pengumuman pelengseran Mugabe, yang hanya berselang seminggu setelah pemecatan wakilnya itu, disambut sorak sorai 200 delegasi partai yang hadir di markas ZANU di Harare.

Mereka seolah telah memutus nasib Mugabe, yang kehilangan dukungan dalam empat hari sejak tentara merebut kekuasaan.

Mugabe diberi tenggat sampai Senin sore untuk mengundurkan diri, atau menghadapi hukuman impeachment, sebuah akhir yang menjatuhkan karir sang "Orang Tua Hebat" dalam politik Afrika, yang pernah dipuji di seluruh benua sebagai pahlawan pembebasan anti-kolonial.

Barat, pada tahun-tahun awal Mugabe berkuasa, bahkan menggelari Mugabe sebagai "Gerilyawan Pemikir", sebuah julukan ironis untuk pria yang kemudian dengan bangga menyatakan “dekrit kekerasan” itu.

Saat perekonomian hancur dan oposisi politik terhadap pemerintahannya meningkat pada akhir 1990-an, Mugabe menunjukkan warna aslinya. Ia merebut ribuan peternakan milik warga kulit putih, menahan lawan dan memerintah pasukan keamanan untuk menghancurkan perbedaan pendapat.

Saat pemungutan suara diumumkan, pemimpin veteran perang Chris Mutsvangwa, yang telah mempelopori kampanye 18 bulan untuk menyingkirkan pria yang secara terbuka digambarkan sebagai "diktator" itu, memeluk rekan-rekannya dan meneriakkan: "Presiden telah pergi. Hiduplah Presiden yang baru."

Grace, istri Mugabe, yang berusia 52 tahun, berambisi menggantikan suaminya. Namun ia juga dikeluarkan dari partai bersama setidaknya tiga menteri kabinet yang telah membentuk G40, faksi politik yang menjadi kendaraan Grace.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
robert mugabe

Sumber : Reuters
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top