Pengelolaan Belum Profesional, Skor Kopi Asal Bali Masih Rendah

Tahun ini tidak ada produk kopi dari Bali yang berhasil masuk dalam lelang kopi yang diadakan oleh Specialty Coffee Association Indonesia (SCAI).
Feri Kristianto | 17 November 2017 20:47 WIB
Ilustrasi penikmat kopi dalam sebuah pameran kuliner - Reuters/Darren Whiteside

Kabar24.com, DENPASAR - Tahun ini tidak ada produk kopi dari Bali yang berhasil masuk dalam lelang kopi yang diadakan oleh Specialty Coffee Association Indonesia (SCAI).

Menurut eksportir kopi di Bali, Wirawan Tjahjadi, salah satu penyebabnya karena pengelolaan bijih kopi di Pulau Dewata belum dikelola secara benar.

“Masih belum sebaik di daerah lain mulai dari pemetikan buah sampai roastednya,” tuturnya ditemui di sela-sela penyerahan rekor MURI kopi termahal se-Indonesia di Jimbaran, Bali, pada Jumat (17/11/2017).

Wirawan menilai belum baiknya pengelolaan bijih kopi menyebabkan skor kopi asal Bali masih di bawah 84. Padahal untuk dapat mengungguli kualitas kopi dari daerah lain skor kopi harus di atas 84.

Kondisi tersebut sangat disayangkan karena nama besar kopi dari Pulau Dewata sudah sangat dikenal. Kopi Kintamani dan Pupuan merupakan contoh produk kopi yang sangat digemari.

Dia mengharapkan ke depannya pengelolaan kopi mulai dari pemetikan biji, penjemuran hingga penyanggrai dilakukan secara baik.

Wirawan optimistis dengan pengelolaan secara baik mulai dari tingkat petani hingga pengepul, kualitas kopi asal Pulau Dewata akan semakin meningkat.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bali, kopi

Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top