Trump Klaim Kunjungan ke Asia Sukses

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menampik anggapan bahwa kunjungan kenegaraannya ke Asia yang berlangsung selama hampir dua pekan tidak menghasilkan terobosan terkait perdagangan maupun Korea Utara.
Renat Sofie Andriani | 16 November 2017 07:49 WIB
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump - Reuters

Kabar24.com, JAKARTA – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menampik anggapan bahwa kunjungan kenegaraannya ke Asia yang berlangsung selama hampir dua pekan tidak menghasilkan terobosan terkait perdagangan maupun Korea Utara.

Dalam pernyataan yang diberikan selama sekitar 24 menit di Gedung Putih pada Rabu (15/11) waktu setempat, Trump justru mengedepankan keberhasilan agenda nasionalisnya dalam perjalanannya ke Asia.

Dia menyatakan bahwa AS belum pernah lebih dihormati di seluruh dunia dan bahwa warga Amerika lagi-lagi optimistis tentang masa depan, percaya diri terhadap nilai-nilai AS, serta bangga akan sejarah dan peran AS di dunia.

“Pesan yang saya sampaikan [selama kunjungan ke Asia] telah bergema,” ujarnya, seperti dikutip dari Bloomberg, Kamis (16/11/2017).

Selama perjalanannya ke lima negara Asia yakni Jepang, Korea Selatan, China, Vietnam, dan Filipina, Trump mendesak para pemimpin negara untuk membantu memperkecil defisit perdagangan AS dan mendorong mereka untuk membeli lebih banyak peralatan militer AS.

Dia secara terbuka mengusung kebijakan 'Amerika First', dengan memperingatkan mitra dagang AS bahwa dia siap untuk mengambil langkah yang lebih proteksionis untuk membantu bisnis dan pekerja Amerika.

Di China, pemerintah mengumumkan lebih dari US$200 miliar kesepakatan tentatif antara perusahaan-perusahaan AS dan China. Namun kesepakatan itu tidak berbentuk kontrak dan mungkin tidak akan terpenuhi.

Meski Trump mencela terhadap apa yang dianggapnya sebagai kekurangan sistemik dalam hubungan perdagangan AS, dia tidak secara terbuka meminta atau menerima jaminan khusus dari para pemimpin kelima negara untuk mengurangi ketidakseimbangan atau mengatasi masalah seperti akses pasar oleh perusahaan AS dan pencurian kekayaan intelektual.

Dalam pernyataannya, Trump berkilah telah bersikeras untuk mendapatkan perdagangan yang adil dan bertimbal balik dengan negara-negara lain. Ia menggambarkan sikap itu sebagai 'undangan terbuka' maupun 'peringatan' ke negara manapun yang menipu atau terlibat dalam agresi ekonomi.

“Defisit perdagangan AS yang mencapai US$800 miliar per tahun adalah hal yang tidak dapat diterima. Kita akan mulai menguranginya, secepat mungkin,” tegasnya.

Trump juga mengatakan bahwa negara-negara yang berpartisipasi dalam tiga pertemuan puncak yang dia hadiri selama perjalanan tersebut telah setuju untuk mendukung kampanye AS untuk menekan Korea Utara secara ekonomi agar meninggalkan program nuklirnya.

Namun pada kenyataannya, rezim Kim Jong Un tetap saja bersikap menentang. Sejumlah pernyataan resmi dari Gedung Putih dan Beijing, menyusul kunjungan Trump ke China, mitra ekonomi dan sekutu utama Korea Utara, pun tidak mengindikasikan adanya kemajuan spesifik.

Pasca kunjungan Presiden Donald Trump ke Beijing, China dikabarkan berencana mengirim utusan khusus tingkat tinggi ke Korea Utara seiring dengan dinginnya hubungan antar kedua negara di tengah program senjata nuklir dan rudal Pyongyang.

Song Tao, kepala Departemen Hubungan Internasional Partai Komunis China, akan melakukan perjalanan ke Pyongyang pada hari Jumat (17/11) untuk melaporkan hasil kongres nasional partai tersebut yang diadakan bulan lalu, menurut kantor berita Xinhua News Agency yang dikutip Washington Post.

Xinhua tidak menyebutkan hal mengenai kunjungan Trump atau program senjata Korut, meskipun Trump telah berulang kali meminta Beijing untuk melakukan lebih banyak upaya untuk menekan Korut agar mengubah perilakunya.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mendesak Xi untuk menekan Korea Utara agar menghentikan program senjata nuklirnya dalam kunjungannya di China Kamis pekan lalu.

Partai Komunis China dan Partai Buruh yang berkuasa di Korea Utara memiliki ikatan yang telah terjalin sejak lama dan sering menggantikan diplomasi formal, bahkan saat Beijing telah lama tertekan dengan provokasi Pyongyang dan keengganan untuk mereformasi ekonominya.

China juga merupakan mitra dagang terbesar Korut dan sumber utama bantuan pangan serta bahan bakar. Walaupun memberlakukan sanksi baru dari PBB terhadap sumber devisa Korut, pemerintah China telah mengupayakan langkah-langkah untuk memperbarui dialog.

 

 

Tag : Donald Trump
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top