China Perketat Aturan Penjualan Rumah

China melakukan pembatasan penjualan rumah baru di beberapa kota besar untuk menyehatkan kembali industri properti di negara itu.
M. Nurhadi Pratomo
M. Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 23 September 2017  |  22:28 WIB
China Perketat Aturan Penjualan Rumah
Satu pekerja membawa ember cat di proyek properti di China - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA — China melakukan pembatasan penjualan rumah baru di beberapa kota besar untuk menyehatkan kembali industri properti di negara itu.

Beberapa kota besar di China seperti Shijiazhuang, Chongqing, Nanchang, Nanning dan Guiyang memberlakukan pembatasan penjualan rumah. Hal tersebut untuk mendinginkan kembali pasar properti yang sempat memanas beberapa waktu terakhir.

Kota Chonqing misalnya, bakal membatasi penjualan properti hunian baru  di wilayah pusat kota dalam jangka waktu dua tahun ke depan. Aturan tersebut mulai berlaku terhitung pada Sabtu (23/09/2017).

“Langkah tersebut berupaya mengekang investasi spekulatif dan mendorong perkembangan pasar properti yang sehat,” ujar otoritas perumahan Chonqing dikutip dari laman Bloomberg, Sabtu (23/09/2017).

Selain Chongqing, Shijiazhuang, ibu kota provinsi Hebei, juga melarang penjualan rumah kembali dalam lima tahun ke depan. Sementara, di Nanchang, ibu kota provinsi Jiangxi, akan menutup harga jual dan melarang penjualan kembali selama dua atau lima tahun setelah pembelian.

Hal serupa dilakukan Ibu Guangxi, Nanning, yang melarang perusahaan properti menjual hunian selama dua tahun setelah membelinya. Dokumen pemerintah daerah di Guiyang, provinsi Guizhou, mengatakan larangan diberlakukan pada penjualan kembali properti baru selama tiga tahun setelah pembelian tersebut. 

Seperti diketahui, harga perumahan di kota-kota besar China mulai meroket sejak pemerintah mulai mengizinkan kepemilikan rumah secara pribadi pada tahun 1998. Beijing dan Shanghai sekarang berada di antara 10 kota dengan harga rumah termahal di dunia. 

Persaingan pasar properti di China memanas dalam beberapa tahun terakhir. Para pengamat memperkirakan tingkat okupansi di Negeri Panda hanya sebesar 60% akibat persaingan yang begitu ketat.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
china, properti

Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top