Siaga Gunung Agung : Proses Evakuasi Mulai Dilakukan

Aparat di Bali mulai memproses evakuasi bertahap warga di kawasan rawan bencana Gunung Agung untuk meminimalisir korban jiwa jika gunung setinggi 3.142 mdpl ini mengalami erupsi.
Feri Kristianto | 19 September 2017 17:51 WIB
Warga berkumpul untuk mencari infromasi aktivitas Gunung Agung di Pos Pemantauan Desa Rendang, Karangasem, Bali, Selasa (19/9). - ANTARA/Nyoman Budhiana

Kabar24.com, AMLAPURA--Aparat di Bali mulai memproses evakuasi bertahap warga di kawasan rawan bencana Gunung Agung untuk meminimalisir korban jiwa jika gunung setinggi 3.142 mdpl ini mengalami erupsi.

Evakuasi tidak langsung dilakukan untuk seluruh warga yang bernaung di radius 7,5 Km tetapi diprioritaskan bagi warga rentan, yakni manula, orang sakit, perempuan hamil, balita dan pengidap gangguan jiwa.

"Ini untuk mengurangi jumlah korban jiwa banyak," ujar Gubernur Bali Made Mangku Pastika di Karangasem, Selasa (19/9/2017).

Menurutnya, kelompok rentan diutamakan karena pergerakan mereka lebih lambat dibandingkan dengan dengan warga berusia muda. Selain itu, karena situasi gunung yang disucikan warga Bali tersebut masih dinilai aman oleh sejumlah warga yang memiliki mata pencaharian sehingga ada warga yang tetap menjaga rumah.

Pastika menyatakan sudah berkoordinasi dengan aparat di Karangasem untuk menyiapkan lokasi pengungsian serta tempat penitipan barang milik warga. Rencananya akan disiapkan tempat penitipan kendaraan kendaraan, ternak hingga uang.

"Sudah saya minta Kapolres dan TNI untuk menjaga tempatnya. Supaya tidak ada pencurian jadi tidak usah khawatir harta bendanya seperti itu karena sering kali persoalan di pengungsian," jelasnya.

Untuk posko pengungsian akan diupayakan lebih representatif baik oleh Pemkab Karangasem, Pemprov Bali serta pemerintah pusat. Seluruh bantuan diupayakan masuk melalui satu pintu sehingga secara administratif teratur. Bali juga akan mendapatkan supervisi langsung dari BNPB terkait aktivitas mengantisipasi terjadinya erupsi dan pengungsian.

Pastika mengharapkan petugas di pintu menuju Gunung Agung tegas sehingga tidak sampai terjadi kecolongan ada wisatawan nekat mendaki tanpa izin. Selain itu, pihaknya meminta dunia pariwisata tetap tenang karena pemerintah sudah menyiapkan semua skenario untuk antisipasi hal terburuk.

Kepala Badan Penanganan Bencana Daerah (BPBD) Bali Dewa Made Indra menambahkan ada sebanyak 49.485 orang dari enam desa yang terdampak karena berada dalam radius 7,5 Km.

Rencananya keseluruhan warga tersebut akan ditempatkan di 4 titik pengungsian, yakni Lapangan Putung, Lapangan Nyuh Tebel, Lapangan Werdhi Yowana dan Banjar Muntig Gunung.

"Kami siapkan di pengungsian ada bale banjar, wantilan serta tenda-tendanga mulai dipasang sore ini," jelasnya ditemui di Karangasem.

Dewa menegaskan proses evakuasi dilakukan secepatnya terhadap warga rentan guna mengantisipasi hal buruk terjadi. Apalagi, pihak PVMBG sudah merekomendasikan radius 7,5 Km harus bebas dari aktivitas manusia.

Dia menyampaikan pemprov Bali sudah menyiapkan dan tanggap darurat senilai Rp15 milir yang siap dikucurkan untuk antisipasi bencana. Selain dana tersebut, pihaknya siap meminta tambahan apabila diperlukan untuk mendukung operasi tanggap darurat.

Sementara itu, Kepala PVBMG Kasbani menyatakan sudah merekomendasikan kawasan radius 7,5 Km harus steril dari manusia. Rekomendasi tersebut dikeluarkan karena meningkatnya aktivitas vulkanik di Gunung Agung.

Hasil pantauan di Pos Pemantau di Rendang, jumlah kegempaan di Gunung Agung pada Selasa (19/9/2017) hingga pukul 12.00 Wita sebanyak 219 gempa vulkanik dan tektonik. Jumlah tersebut mendekati catatan kegempaan yang saat statusnya masih Waspada sebanyak 366 gempa selama satu hari.

Selain tanda kegempaan, pihaknya juga mencatat terjadi lontaran asap sulfara setinggi 200 meter dari kawah pada siang hari. Kasbani mengharapkan aktivitas vulkanik Gunung Agung akan turun, tetapi juga sudah menyiapkan skenario terburuk.

"Kita harus waspada dan berhati-hati karena gempanya semakin ke sini makin rapat," jelasnya.

Kasbani menyatakan Gunung Agung terhitung sudah lama beristirahat sejak erupsi terakhir pada 1963. Karena itu PVMBG mengerahkan ahli-ahli terbaiknya ke Kabupaten Karangasem untuk mengamati Gunung Agung.

Sebanyak tiga orang ahli vulkanologi, seismologi hingga peralatan didatangkan ke pos pengamatan Gunung Agung guna mengantisipasi potensi terjadinya erupsi.

Total ada sekitar enam orang pengamat dan ahli sudah dikerahkan ke Karangasem dan diperkirakan akan bertambah. Pada hari- hari biasa, hanya menempatkan sebanyak 4 orang pengamat di pos pengamatan ini.

Tag : gunung agung
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top