BI Optimistis Ekonomi Sulut Triwulan III Tumbuh 6,1%

Bank Indonesia optimistis pertumbuhan ekonomi di Provinsi Sulawesi Utara pada triwulan III tahun ini mencapai kisaran 6,1%, plus minus 0,2%.
Puput Ady Sukarno | 17 September 2017 21:57 WIB
Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey - Antara/Hafidz Mubarak

Kabar24.com, MANADO - Bank Indonesia optimistis pertumbuhan ekonomi di Provinsi Sulawesi Utara pada triwulan III tahun ini mencapai kisaran 6,1%, plus minus 0,2% atau naik dibandingkan dengan triwulan II/2017 yang tumbuh 5,8%.

Deputi Direktur Bidang Advisory dan Pengembangan Ekonomi Kantor Perwakilan BI Sulut, Buwono Budi Susanto, mengakui pertumbuhan ekonomi Sulut pada triwulan II/2017 tidak semulus yang diproyeksikan, meskipun optimisme tetap terjaga dengan baik.

Pertumbuhan ekonomi Sulut triwulan II/2017 hanya 5,80% (yoy), tumbuh lebih lambat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang mampu mencapai 6,43% (yoy).

"Kami optimistis, untuk triwulan tiga ini proyeksinya mencapai 6,1% plus minus 0,2%. Lalu pada triwulan keempat mencapai sekitar 6,3% plus minus 0,2%," tuturnya.

Buwono optimistis proyeksi itu dapat tercapai lantaran realisasi penyerapan anggaran yang sempat tertunda, yang seharusnya masuk triwulan II/2017, akan masuk pada twiulan III tahun ini, sehingga dapat mendongkrak pertumbuhan.

Selain itu, biasanya memang beberapa daerah pada triwulan III hingga triwulan IV mulai terjadi lonjakan penyerapan anggaran seiring dengan adanya pembahasan penetapan perubahan anggaran pendapatan belanja daerah setempat.

“Jadi percepatan penyelesaian penetapan APBD-P oleh pemerintah daerah, baik eksekutif dan legislatif kabupaten/kota maupun provinsi di Sulut, juga akan sangat berpengaruh pada penyerapan, yang ujungnya berimbas pada pertumbuhan ekonomi," ujarnya.

Pasalnya, kebanyakan pengeluaran rumah tangga di Sulut tergantung kepada pengeluaran pemerintah. "Goverment spending itu menyumbang 35% dari PDRB, di mana terbagi 16% dari pemerintah provinsi dan sisanya dari pemerintah kabupaten/kota."

Namun, yang menjadi kekhawatiran pihaknya saat ini adalah sering terjadinya operasi tangkap tangan (OTT) sejumlah kepala daerah oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Pihaknya mengkhawatirkan hal itu juga dapat memengaruhi sejumlah kepala daerah lainnya dalam melakukan eksekusi anggaran.

"Kami tentu mendukung KPK dalam upaya memberantas korupsi. Cuma kekhawatiran kami dengan adanya OTT yang masif dalam beberapa waktu terakhir ini, dapat membuat kepala daerah memilih menahan untuk melakukan eksekusi anggaran lantaran ketakutan," ujarnya.

Dia berpandangan dengan penyerapan anggaran yang terhambat tersebut pada ujungnya bisa memengaruhi pertumbuhan ekonomi.

"Triwulan tiga memang sangat krusial. Bisa jadi 6,1% tidak akan tercapai kalau ada pimpinan daerah yang terciduk KPK juga," ujarnya.

Kepala Perwakilan BI Wilayah Sulut, Soekowardjojo, pun mengakui bahwa realisasi pertumbuhan ekonomi triwulan kedua di Sulut berada di luar perkiraan sebelumnya, lantaran disebabkan terkontraksinya konsumsi pemerintah dan kinerja ekspor.

Menurutnya, terjadinya kontraksi ekspor sejalan dengan melambatnya harga komoditas. Selain itu, konsumsi pemerintah yang di luar perkiraan sejalan dengan upaya meningkatkan efisiensi dan perbaikan alokasi penggunaan anggaran pemerintah.

“Konsumsi pemerintah menurun seiring dengan rendahnya realisasi belanja pemerintah nonmodal pada triwulan II/2017 dari pada periode sama 2016, serta bergesernya beberapa pengeluaran yang dilakukan pada Juli (artinya sudah masuk triwulan III),” ujarnya.

Sementara itu, penurunan kinerja ekspor, terutama dipengaruhi oleh menurunnya harga Coconut Oil (CNO) yang merupakan komoditas utama ekspor Sulut, dari 1.701 dolar AS per MT pada triwulan satu menjadi 1.627 dolar AS per MT pada triwulan II/2017.

Soekowardjojo menilai kondisi pertumbuhan ekonomi pada triwulan II/2017 tersebut cukup mengkhawatirkan, sebab terdapat perlambatan hingga 0,63%, yang bagi pelaku ekonomi angka tersebut cukup besar.

Walaupun pertumbuhan eknomi Sulut triwulan II 2017 itu masih lebih tinggi ketimbang nasional yang hanya 5,01% (yoy), pertumbuhan di Sulut itu juga masih lebih rendah daripada periode sama 2016 yang 6,15%.

"Kenyataannya ada pertumbuhan yang terkoreksi 0,6%, yang bagi kami ini cukup besar dan mengejutkan. Meski secara overall masih oke, rata-rata masih di angka 6%. Tapi apakah angka ini sudah maksimal," ujar Soeko, panggilan akrab Soekowardjojo.

Pasalnya, kata dia, perekonomian Sulut masih sangat berpotensi untuk terus melaju dengan sangat baik, apabila semua stakeholder bersinergi bersama untuk mengurangi sejumlah tantangan yang ada.

"Perekonomian Sulut masih bagus, dan di sini akan semakin maju lagi apabila dapat mengurai bersama sejumlah pekerja rumah yang harus segera diselesaikan," ujarnya.

Pihaknya mengakui bahwa hasil pemetaan sementara ini, Sulut masih memiliki segudang tantangan, seperti ekspor yang masih tergantung hanya  pada satu komoditas (minyak nabati).

Sulut juga mengalami deindustrialisasi, juga penyaluran kredit di daerah bitu yang masih didominasi sektor konsumtif, manajemen sumber daya alam yang masih belum berjalan dengan baik, proses pembebasan lahan untuk proyek-proyek infrastruktur pendorong perekonomian pun masih sering terkendala sehingga menghambat pembangunan.

Selain itu, tantangan lainnya seperti suplai listrik yang masih terbatas, kualitas sumber daya manusia (SDM) relatif masih rendah, serta inflasi di Sulut yang cenderung fluktuatif.

Sementara, lanjut Soeko, Sulut masih sangat berpeluang untuk terus tumbuh, apalagi didukung letak geografis yang sangat strategis di Indonesia Timur, memiliki sumber daya alam melimpah, serta mulai banyaknya pembangunan proyek infrastruktur strategis nasional dikerjakan di provinsi ini, seperti KEK Bitung dan jalan tol Manado - Bitung. "Maka dari itu menjadi tugas kita bersama seluruh stakeholder untuk mengurai itu semua."

Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Utara Edwin Silangen mengakui bahwa saat ini memang masih banyak pekerjaan rumah yang harus dikerjakan bersama-sama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di Bumi Nyiur Melambai.

“Sejumlah tantangan akan yang kita urai satu persatu dengan kebijakan-kebijakan baru agar perekonomian Sulut semakin baik, termasuk juga bagaimana penyerapan anggaran dari pemerintah pusat yang dialokasikan ke daerah dapat kita genjot dan upayakan semaksimal mungkin di triwulan ini,” ujarnya.

Dia juga mendorong diversifikasi komoditas ekspor lainnya, serta pariwisata yang pertumbuhannya dalam tahun terakhir sangat signifikan.

“Kami juga sedang kebut penyelesaian sejumlah proyek strategis nasional yang ada di Sulut, seperti bendungan dan jalan tol Manado - Bitung," ujarnya.

Saat ini, kata dia, masih ada beberapa pembebasan lahan terus berjalan dan pararel sudah mulai dikerjakan konstruksinya juga dan 2018 harus sudah selesai.

Tag : sulut
Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top