CEO JPMorgan: Karyawan Bertransaksi Bitcoin Akan Dipecat

CEO JPMorgan Chase & Co., Jamie Dimon, menyatakan akan memecat karyawan yang didapati melakukan transaksi bitcoin.
Renat Sofie Andriani | 14 September 2017 16:39 WIB
Ilustrasi - Pando

Bisnis.com, JAKARTA – CEO JPMorgan Chase & Co., Jamie Dimon, menyatakan akan memecat karyawan yang didapati melakukan transaksi bitcoin.

Menurut Dimon, cryptocurrency (mata uang digital) adalah suatu bentuk penipuan dan bahwa perdagangannya tidak akan berakhir dengan baik.

“Jika seorang pedagang JPMorgan mulai mentransaksikan bitcoin, saya akan segera memecatnya. Ada dua alasan: tindakan ini bertentangan peraturan kami dan bodoh. Keduanya berbahaya,” ujar Dimon dalam sebuah konferensi dengan para investor di New York, seperti dikutip dari Bloomberg, Kamis (14/9/2017).

Popularitas bitcoin, salah satu cryptocurrency, telah melonjak dalam beberapa bulan terakhir, didorong besarnya penerimaan teknologi blockchain yang mendasari metode penukaran serta optimisme bahwa waktu transaksi yang lebih cepat akan mendorong penggunaan cryptocurrency yang lebih luas.

Tahun ini, harga bitcoin telah melonjak lebih dari empat kali lipat yang sekaligus memicu perdebatan tentangnya. Harga bitcoin tergelincir menyusul pernyataan Dimon tersebut, bahkan anjlok 2,7% sebelum dapat kembali pulih.

Pekan lalu, harga bitcoin merosot akibat laporan bahwa China berencana melarang perdagangan mata uang virtual di bursa penukaran domestik. Kabar ini memberi pukulan lain ke pasar cryptocurrency yang telah mencapai nilai US$150 miliar.

“Ini (cryptocurrency) adalah penipuan dan lebih buruk daripada demam bunga tulip,” lanjut Dimon.

Demam bunga tulip (Tulipomania) adalah keadaan yang pernah menyapu Belanda pada abad ke-17, ketika para spekulan menjual bunga tulip yang secara virtual hampir tidak bernilai dengan harga selangit. Kondisi itu tidak berakhir dengan baik.

Dalam kasus bitcoin, Dimon mengungkapkan sikap skeptisnya bahwa pihak otoritas akan membiarkan keberadaan mata uang tanpa pengawasan negara, terutama jika ada yang tidak beres.

“Akan ada yang hancur dan kemudian pemerintah akan turun tangan. Lihat saja di China, pemerintah ingin mengendalikan jumlah uang beredarnya,” katanya.

Ia pun membedakan mata uang bitcoin dan teknologi blockchain, yang menurutnya bisa bermanfaat. Meski demikian, dia mengatakan penerapan blockchain oleh bank tidak akan terjadi dalam semalam.

Argumen terbaik terkait cryptocurrency yang pernah didengarnya, adalah manfaatnya bagi orang-orang di tempat yang tidak memiliki pilihan lain, selama persediaan uang logam tidak melonjak.

“Jika Anda berada di Venezuela, Ekuador, Korea Utara atau wilayah seperti itu, atau jika Anda adalah seorang pedagang obat bius, pembunuh, atau semacamnya, Anda lebih baik melakukannya dengan bitcoin daripada dolar AS. Mungkin memang ada pasar untuk itu, tapi akan terbatas,” lanjutnya.

Salah satu tempat di mana cryptocurrency dan keuangan tradisional tersedia adalah CBOE Holdings Inc., induk Chicago Board Options Exchange (CBOE). Bulan lalu, perusahaan tersebut bekerja sama dengan Gemini Trust Co. dalam rencana untuk menawarkan masa depan bitcoin.

CEO CBOE, Ed Tilly, pun tetap mempertahankan langkah tersebut menyusul pernyataan Dimon.

“Suka atau tidak, orang-orang tertarik dengan bitcoin. Orang-orang yang percaya (bitcoin) bisa bertaruh pada kenaikannya dan Dimon dapat mengambil sisi lainnya. Kami senang bisa berada di antaranya,” kata Tilly.

 

Tag : bitcoin
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top