Pemerintah Australia Memata-Matai Kedutaan China

Pemerintah Australia memata-matai kedutaan besar China di negara tersebut dan "mengganggu" warga China untuk mencari informasi intelijen, kata surat kabar negara, yang berpengaruh, pada Kamis, mengutip sumber keamanan.
Newswire | 29 Juni 2017 19:23 WIB
Pemandangan kota Melbourne, Australia - conference.aifs.gov.au

Bisnis.com, BEIJING -  Pemerintah Australia memata-matai kedutaan besar China di negara tersebut dan "mengganggu" warga China untuk mencari informasi intelijen, kata surat kabar negara, yang berpengaruh, pada Kamis, mengutip sumber keamanan.

China dan Australia memiliki hubungan erat bisnis dan ekonomi, namun Beijing sangat curiga terhadap hubungan pertahanan Canberra dengan Washington.

Dengan mengutip pejabat tidak disebutkan namanya di Departemen Keamanan Nasional China, tabloid "Global Times" mengatakan pemerintah Australia memata-matai China dan memantau orang China di Australia.

"Pegawai departemen keamanan nasional mengatakan petugas Australia, yang menyamar, mendekati orang China, yang bekerja atau tinggal di luar negeri, untuk mengumpulkan informasi atau bahkan mendorong mereka melakukan subversi pada China," kata laporan tersebut.

"Sementara itu, atas nama menghindari 'ancaman mata-mata China', Badan intelijen Australia terus memantau orang China dan Kedutaan Besar China di Australia," katanya.

Laporan tersebut mengatakan "banyak" orang China diwawancarai atau dilecehkan dan diminta memberikan informasi tentang masyarakat Cina dan kedutaan China.

"Beberapa orang China bahkan dikirim kembali ke China untuk mengumpulkan informasi," katanya.

Pejabat China menemukan "banyak perangkat untuk menyadap di kedutaan", yang memaksa pemerintah merenovasinya, kata sumber tersebut kepada surat kabar itu, yang diterbitkan harian resmi "People's Daily".

Tidak mungkin menghubungi Kementerian Keamanan Negara China untuk meminta tanggapan, karena kementerian tersebut tidak memiliki nomor telepon umum atau laman.

Baik kantor menteri luar negeri Australia maupun departemen luar negeri dan perdagangan Australia belum menanggapi permintaan untuk berkomentar tentang artikel "Global Times" tersebut.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
china

Sumber : ANTARA/REUTERS
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top