Negosiasi Perdana Brexit, Diskusi Berjalan Kondusif

Dalam negosiasi resmi perdana Brexit, Inggris nampak melunak terhadap tuntutan Uni Eropa, terutama terkait konsekuensi pada hubungan baru kedua kawasan.
Yustinus Andri DP | 20 Juni 2017 12:25 WIB
Ilustrasi - Reuters

Bisnis.com, BRUSSELS—Dalam negosiasi resmi perdana Brexit, Inggris nampak melunak terhadap tuntutan Uni Eropa, terutama terkait konsekuensi pada hubungan baru kedua kawasan.

Pada hari pertama perundingan yang digelar pada Senin (19/6/2017) waktu setempat, kedua negosiator yakni David Davis dari Inggris dan Michel Bernier dari Uni Eropa menyatakan bahwa diskusi mereka berjalan kondusif dan positif.

Keduanya berjanji bekerja sama untuk menciptakan hubungan yang konstruktif bagi kedua negara, hingga hari terakhir batas waktu bergabungnya Inggris dalam Uni Eropa, yakni 29 Maret 2019.

Namun demikian, dalam perundingan tersebut, Inggris nampak melunak dan cenderung mengikuti kemauan Uni Eropa. Hal itu tampak dari sepakatnya Negeri Ratu Elizabeth untuk mendahulukan persyaratan perceraian kedua kawasan, termasuk biaya keluar yang dibayar Inggris untuk keluar dari Uni Eropa yang mencapai 100 miliar euro.

Uni Eropa ingin persyaratan peceraian tersebut dibahas lebih dahulu, sebelum akhirnya negosiasi kedua kawasan beranjak ke topik kesepakatan perdagangan yang baru.

Hal itu tentu saja berbeda dengan indikasi yang diberikan sejumlah pejabat Inggris sebelum negosiasi dilakukan. Pejabat seperti Perdana Menteri Theresa May dan Menteri Keuangan Philip Hammond yang mengindikasikan bahwa topik hubungan perdagangan baru akan menjadi isu pertama yang dibahas.  

Seperti diketahui, pemerintah dan para pelaku bisnis Inggris berharap agar negaranya dapat tetap masuk ke dalam pasar tunggal Uni Eropa kendati telah berpisah dengan Uni Eropa.

“Negosiasi tentang perdagangan tidak akan dilakukan sebelum Inggris benar-benar meninggalkan Uni Eropa kurang dari dua tahun. Ini bukan tentang hukuman, tetapi konsekuensi ketika Inggris keluar dari blok ini, dan konsekuensi itu sangat besar,” kata Bernier, seperti dikutip dari Bloomberg, Selasa (20/6/2017).

Pernyataan Bernier tersebut selain mementahkan keyakinan Inggris bahwa topik perdagangan aka jadi pembahasan pertama, juga memupuskan harapan May yang ingin menyelesaikan persoalan perjanjian dagang baru dengan Uni Eropa secepat mungkin.

Sementara itu, Davis pun seolah membenarkan ucapan Bernier tersebut. Dia mengatakan bahwa perundingan tentang hubungan dagang baru akan dilakukan secara paralel.

“Inggris tidak akan mundur dari keputusannya untuk keluar dari Uni Eropa. Negosiasi yang kuat akan terus dilakukan hingga batas akhir, termasuk mengenai hubungan perdagangan barum” kata Davis, seperti dikutip dari Reuters, Selasa (20/6/2017).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Brexit

Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top