IN MEMORIAM LEO KRISTI: Nenek, Bukalah Pintu yang Kuketuk. Tapi Bukan Dengan Air Matamu

Leo Kristi, sang troubadour alias penyanyi pengelana telah menyelesaikan perjalanannya di dunia. Ia meninggal dunia Minggu (21/5/2017) dini hari.
Saeno | 21 Mei 2017 10:48 WIB
Leo Kristi - Antara

Kabar24.com, JAKARTA – Leo Kristi, sang troubadour alias penyanyi pengelana telah menyelesaikan perjalanannya di dunia. Ia meninggal dunia Minggu (21/5/2017) dini hari.

Berdasar pesan dari pihak keluarga yang dibroadcast di media sosial, jenazah seniman ini akan disemayamkan di Pondok Gede, Jakarta.

“Dari keluarganya: Jenazah Mas LEO KRISTI.akan disemayamkan di JAKARTA.,di rumah pak BONNY @ JATIWARINGIN ASRI,.Jl. BONGAS II E 7/17. PONDOK GEDE,” demikian pesan di grup Whatsapp, Minggu (21/5/2017) pagi.

Sebelumnya, sekitar pekan lalu saya sempat membaca ajakan dari wartawan senior Dharono, yang kini membuka usaha Sepatu di Bandung, untuk ngopi sore bersama Leo Kristi, di Kota Kembang tersebut.

Namun, tak berselang sepekan ajakan itu berubah dengan pemberitahuan pembatalan acara ngopi bareng. “Leo Kristi sakit, dirawat di Immanuel,” ujar Dharono menyebut nama rumah sakit di sekitar jalan Kopo, Bandung di kawasan selatan dari Alun-Alun.

Leo Imam Sukarno atau lebih dikenal dengan nama Leo Kristi lahir di Surabaya, Jawa Timur, 8 Agustus 1949; Ia dikenal sebagai musisi pengelana.

Bersama Gombloh atau Franky Sahilatua (keduanya sudah lebih dulu meninggal dunia) Leo Kristi mendirikan grup musik beraliran rock progresif bernama Lemon Trees.

Darah pengembara membuat Leo Kristi memiliki keluasan wawasan musikalnya lewat perjalanannya menyusuri Nusantara

Banyak kenangan dari banyak orang tentang pemilik nama resmi Leo Imam Sukarno ini.

Bagi saya, yang hanya seorang pengagum kecil yang memilih menyukai karya-karyanya secara diam-diam, Leo Kristi adalah penyanyi hebat, bisa melukis, artis dan hidup dengan jalan kesenimanan yang ditekuninya.

Perjalanan Leo Kristi tak hanya di Tepi Surabaya, atau hanya sekadar persaksian tentang Kali Mas.

Dalam lagu-lagunya, Leo lebih banyak berbicara tentang di luar dirinya walau begitu bukan berarti dia tak bisa menampilkan kesan romantis.

Tepi Surabaya

Betapa sepi
seorang nenek sendiri di tepi lalu coba menyapa
lewat mataair , kota lama ini
lewat tak berakar kaca kaca miskin jiwa

Tepi-tepimu Surabaya
di mana kita mulai semua ini
gema nyanyian pahlawan kini jadi nyanyian wayang

Tepi-tepi mu oh Surabaya
Gelap turun bagi jalan perempuan tua

Nenek, bukalah pintu yang kuketuk
Tapi tidak dengan airmatamu
Hidup selalu berubah
Lewat pasang surut Kali mas

Sinar lentera dalam kabut tipis
Belum juga mati menjelang pagi
Sinar lentera berkedip-kedip
Tidak juga mati menjelang pagi

Lirik lagu Tepi Surabaya di atas sempat saya dengarkan langsung saat Leo menggelar Konser Rakyat di Kampus Universitas Padjadjaran, duapuluhan tahun lalu.

Dengan desain panggung ala kadarnya, sesekali kaki bertumpu di atas drum kecil yang sehari-hari menjadi tempat sampah, Leo tampil dalam aura dan kesunyian eksistensial yang dipilihnya. Paling tidak itulah yang saya tangkap saat itu.

Lagu Tepi Surabaya memberi bekas yang dalam di hati saya. Tak kalah dalam dengan lagu Gulagalugu Suara Nelayan, atau lagu lain dengan semangat nasionalisme yang membara.


Tentang pribadi romantis, selain romatisme duka dan sunyi pada Tepi-Tepi Surabaya saya juga terkesan dengan Kaki Langit Cintakuh Berlabuh

 

Kaki Langit Cintakuh Berlabuh

Angin malam yang berbisik padaku
Mengapa bersedih
Pilar pilar tegar gema memanjang
Abadi cintaku

Burung malam kini terbang
Melintasi langit terang
Memikikkan kesunyian hati

Bintang bintang yang berkedip padaku
Mengapa sendiri
Kau pergi dan tak pernah kembali
Tepati janji

Lampu lampu mulai kelam
Jelang dingin berselimut kabut
Kapal kapal mulai turun ,mulai turun
Mengangkat sauh
laut kelam kaki langit cintaku berlabuh
laut kelam kaki langit cintaku berlabuh

Masih banyak lagu Leo Kristi yang terlalu sayang kalau dilupakan, juga lirik tentang cinta yang didendangkannya di atas panggung “Cinta….sentuhan kasih yang tulus….saat usia tengah abad….selebihnya hanya kau yang tahu…..untuk menjaga…..agar tetap biru…..dalam kebiruan….” begitu lirik yang selalu terngiang di kepala saya (semoga tidak salah mengingat dan memang seperti itulah liriknya).

Berita lelayon Minggu pagi membuat saya berselancar di dunia maya, mencari berbagai informasi tentang Leo Kristi dan lagu-lagunya.

Terbayang sorot matanya yang lurus ke depan di atas panggung, dengan petikan getar dan gelora lagu yang berkumandang dan sang Pengelana.

Salam Dari Desa
Kalau ke kota esok pagi sampaikan salam rinduku
Katakan padanya padi - padi telah kembang
Ani - ani seluas padang roda giling berputar - putar
Siang malam tapi bukan kami punya

Kalau ke kota esok pagi sampaikan salam rinduku
Katakan padanya tebu-tebu telah kembang
Putih-putih seluas padang
Roda lori berputar – putar siang malam
Tapi bukan kami punya

Anak-anak kini telah pandai menyanyikan gema merdeka
Nyanyi - nyanyi bersama-sama di tanah-tanah gunung
Anak-anak kini telah pandai menyanyikan gema merdeka
Nyanyi - nyanyi bersama-sama tapi bukan kami punya

Tanah pusaka tanah yang kaya
Tumpah darahku di sana kuberdiri
Di sana kumengabdi dan mati dalam cinta yang suci

Kalau ke kota esok pagi sampaikan salam rinduku
Katakan padanya nasi tumbuk telah masak
Kan kutunggu sepanjang hari
Kita makan bersama-sama berbincang-bincang
Di gubuk sudut dari desav

Kini Leo Kristi berpulang, meninggalkan Tanah pusaka// tanah yang kaya//Tumpah darahku/ di sana kuberdiri//Di sana kumengabdi dan mati// dalam cinta yang suci.

Selamat jalan sang maestro.

Tag : Leo Kristi, penyanyi
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top