Soal Degradasi Status Grosir, Begini Tanggapan Distributor Aqua

PT Balina Agung Perkasa, distributor Aqua, mengatakan degradasi grosir besar menjadi wholesaler akibat kesalahan internal, bukan karena menjual produk Le Minerale. PT Balina Agung dan PT Tirta Investama jadi terlapor dalam perkara persaingan usaha tidak sehat di KPPU.
David Eka Issetiabudi | 21 Mei 2017 18:15 WIB
Sidang di Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). KPPU mulai menyidangkan perkara persaingan tidak sehat antara Aqua dengan Le Minerale, Selasa (9/5/2017). - Deliana Pradhita Sari

Bisnis.com, JAKARTA — PT Balina Agung Perkasa, distributor Aqua, mengatakan degradasi grosir besar menjadi wholesaler akibat kesalahan internal, bukan karena menjual produk Le Minerale. PT Balina Agung dan PT Tirta Investama jadi terlapor dalam perkara persaingan usaha tidak sehat di KPPU.

Ketut Widya, kuasa hukum PT Balina Agung Perkasa, mengatakan mekanisme bisnis yang dikerjakan kliennya adalah beli putus, dalam mendistirbusikan produk PT Tirta Investama (terlapor I). Mekanisme pengukuran kinerja star outlet adalah target penjualan, dan bukan soal apakah, pelaku grosir besar juga menjual produk air minum dalam kemasan (AMDK) merek lain.

Dalam tanggapan atas laporan dugaan perkara (LDP) melanggar prinsip persaingan usaha tidak sehat Pasal 15 ayat (3) huruf b dan Pasal 19 huruf a dan b, pihaknya memandang tidak ada unsur untuk menghalangi produk lain dijual oleh star outlet.

“Sudah diberikan teguran kepada karyawan perusahaan terkait dengan email berisi sanksi yang diterapkan oleh terlapor II kepada pedagang SO apabila menjual produk kompetitor,” tuturnya kepada Bisnis, Minggu (21/5/2017).

Soal penurunan kelas pedagang, mekanisme yang diguankan adalah target penjualan. Untuk pedagang yang diturunkan kelasnya, Ketut mengatakan karena pelaku tersebut tidak tertib dengan melakukan pembayaran menggunakan cek kosong.

Dalam memasarkan produk Tirta Investama, Aqua dan Vit, terlapor dua memiliki 12 wilayah pemasaran. Keduabelas wilayah tersebut di antaranya Cikampek, Cirebon, Cikarang, Bekasi, Lemah Abang, Sunter, Pulogadung, Cibubur dan Cimanggis.

“Ada distributor lain juga yang memasarkan Aqua, kami mendapat bagian di Jakarta dan Bekasi. Kami bukan anak usaha Tirta Investama, tetapi benar kami hanya menjual produk mereka,” tambahnya.

Sebelumnya, Investigator Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Frans Adiatma mengatakan salah satu bukti yang dimiliki tim investigator yakni pengakuan pedagang star outlet (SO). Dalam rantai distribusi Aqua, level SO tepat berada di bawah distributor PT Balina Agung Perkasa. Adapun level setelah SO disusul oleh wholesaler, retailer dan end user.

"Dari hasil penyidikan, SO diancam oleh terlapor II untuk diturunkan levelnya menjadi wholesaler apabila menjual produk kompetitor yaitu Le Minerale," katanya dalam sidang perdana (9/5).

Pedagang SO, lanjutnya, diminta menandatangani formulir persetujuan untuk tidak menjual produk pesaing. Apabila melanggar, maka sanksi penurunan status keagenan akan diterapkan.

Hal tersebut dinilai merugikan pedagang SO. Pasalnya, pedagang SO harus membeli produk Aqua dari terlapor II dengan harga wholeseler yang lebih tinggi. Data yang diperoleh Bisnis menyebutkan, terlapor II mematok harga jual ke SO untuk air minum dalam kemasan 600 ml Rp37.000 per dus. Sementara itu, harga jual ke wholesaler dibanderol Rp38.250.

"Terdapat selisih 3%. Hal tersebut dapat merugikan SO ketika mereka membeli dalam partai besar hingga ribuan dus," ungkap data dalam laporan tersebut.

Tag : kppu
Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top