DPR : Segera Evaluasi Sistem Senjata, 4 Prajurit Tewas di Natuna

TNI diminta mengevaluasi standar keamanan dan perawatan alutsista setelah empat prajurit TNI AD tewas akibat ledakan meriam buatan China saat latihan pendahuluan Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) di Natuna, Kepulauan Riau.
John Andhi Oktaveri | 18 Mei 2017 09:32 WIB
Prajurit TNI bersiaga di atas kendaraan tempur - Antara/Nyoman Budhiana

Kabar24.com, JAKARTA--TNI diminta mengevaluasi standar keamanan dan perawatan alutsista setelah empat prajurit TNI AD tewas akibat ledakan meriam buatan China saat latihan pendahuluan Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) di Natuna, Kepulauan Riau.

Demikian disampaikan Ketua Komisi I DPR, Abdul Kharis Almasyahari menanggapi kasus meledaknya meriam buatan China saat latihan.

Menurutnya, kejadian yang menimpa anggota pasukan PPRC kemarin tersebut merupakan ekses dari minimnya evaluasi alutsista oleh TNI.

Menurut dia TNI perlu menjelaskan dan mengusut faktor penyebabnya. Apakah karena faktor pemeliharaan dan perawatan atau karena kondisi meriam saat dibeli memang sebenarnya tidak layak.

"Mabes TNI dalam memastikan tingkat safety peralatan tempur yang akan digunakan TNI harus melakukan evaluasi mengingat pemeliharaan dan perawatan (harwat) terhadap alutsista selama ini memang agak terabaikan," ujar Kharis melalui keterangan tertulisnya, Kamis (18/5).

Apalagi, kata dia, wilayah Natuna memang menjadi prioritas dan strategis dalam perpektif pertahanan negara.

Untuk itu alutsista dan peralatan tempur yang disiagakan harus dalam kondisi prima dan siaga tempur saat krisis terus meningkat di Laut Cina Selatan.

"Saya turut berduka atas gugurnya para prajurit TNI dalam insiden ledakan tersebut dan insiden meledaknya meriam buatan Cina ini tentu tidak diharapkan kita semua. Saya berharap Mabes TNI dapat segera menangani para prajurit yang terluka," ujar Kharis.

Kepala Dinas Penerangan TNI AD (Kadispenad) Brigjen Arm Alfret Denny Tuejeh Empat mengatakan empat prajurit TNI AD meninggal dunia akibat karena gangguan pada salah satu pucuk meriam giant bow dari Batalyon Arhanud 1/K.

"Salah satu pucuk meriam giant bow dari Batalyon Arhanud 1/K yang sedang melakukan penembakan mengalami gangguan pada peralatan pembatas elevasi."

Akibatnya, lanjut dia, tidak dapat dikendalikan dan mengakibatkan empat orang meninggal dunia dan delapan prajurit lainnya mengalami luka-luka karena terkena tembakan," ujarnya.

Tag : tni, alutsista
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top