Asean Fokuskan Kerja Sama RCEP

Negara-negara Asia Tenggara akan memprioritaskan kerja sama dagang yang berfokus ke kawasan Asia seperti Regional Comprehensive Economic Patnership (RCEP).
Yustinus Andri DP | 26 April 2017 21:03 WIB
Menteri Perdagangan dan Industri Filipina Ramon Lopez

Bisnis.com, JAKARTA—Negara-negara Asia Tenggara akan memprioritaskan kerja sama dagang yang berfokus ke kawasan Asia seperti Regional Comprehensive Economic Patnership (RCEP).

Menteri Perdagangan dan Industri Filipina Ramon Lopez mengatakan, Asean akan mendahulukan proses pembicaraan pakta dagang yang melibatkan China, India Dan Jepang. Hal itu tak lepas dari kebijakan Amerika Serikat (AS) yang belum jelas hingga saat ini, terutama dalam perdagangan internasional.

Untuk itu dia melihat ada kecenderungan neagra Asean akan lebih mendahulukan pembahasan pakta perdagangan yang dihuni mayoritas negara Asia seperti RCEP, dibandingkan Trans-pacific Patnership (TPP) yang diprakarsai oleh AS.

“Tentu kami memiliki hubungan ekonomi yang besar dengan AS. Mereka negara besar sekaligus pasar yang besar. Namun, kami melihat AS tidak masuk dalam agenda teratas dari Asean untuk menggelar kerjasama dagang,” katanya, Rabu, seperti dikutip dari Reuters (26/4/2017).

Pernyataan Lopez itu dikeluarkan jelang digelarnya Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asean yang digelar di Manila pada 26-29 April. Agenda mengenai perekonomian terutama arah kerja sama dagang diperkirakan akan menjadi salah satu topik bahasan dalam KTT tersebut.

Adapun, kerjasama RCEP memiliki anggota yang terdiri dari negara-negara Asean ditambah dengan  enam negara lain yakni Jepang, India, Selandia Baru, Australia, Korea Selatan dan China. Kerjasama ini memiliki nilai produk domestik bruto (PDB) gabungan mencapai US$2,6 triliun dan mencakup 45% populasi dunia serta 30% perdagangan dunia.

Sementara itu pada 2050, angka produk domestik bruto (PDB) gabungan negara-negara RCEP diperkirakan menembus US$100 triliun. Bagi Indonesia, 15 negara anggota RCEP mewakili 56,2% ekspor ke dunia dan 70% impor dari dunia. RCEP juga menyumbang 48,21% investasi asing di Tanah Air.

Namun demikian, proses pembahasan RCEP sendiri saat ini tengah mengalami hambatan yang cukup besar, terutama terkait sikap India kepada China .

Pasalnya New Delhi tampak ketakutan akan terjadi banjir impor produk dari China, pascadilaksanakannya RCEP. Tercatat India memilki defisit perdagangan paling besar dengan China, dibandingkan negara anggota RCEP lainnya.

Sepanjang tahun lalu defisit perdagangan India dengan China menembus US$52 miliar. Situasi tersebut membuat India benar-benar memperhitungkan dampak negatif dari adanya akses bebas produk barang negara anggota RCEP.

Sebagai gantinya India meminta adanya liberalisasi sektor jasa. Hal itu dinilai New Delhi sebagai solusi untuk mengkompensasi kerugian atas masuknya produk-produk murah asal China.

Akan tetapi, permintaan India tersebut mendapatkan pertentangan dari sejumlah negara anggota di Asia Tenggara. Mayoritas negara di Asean mengaku belum siap jika harus menghadapi liberalisasi sektor jasa dalam RCEP.

Hal itu diamini oleh  Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan (Kemendag) Iman Pambagyo beberapa waktu lalu. Dia yang juga menjabat sebagai Kepala Negosiasi Perdagangan RCEP itu mengatakan, sikap India kepada China terus menjadi fokus utama pembahasan RCEP selama beberapa putaran terakhir.

Sumber : Reuters

Tag : ekonomi global, asean
Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top