Yayasan Kehati Tanam 1.000 Bibit Mangrove di Kampung Kepiting

Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia menanam 1.000 bibit mangrove di Kampung Kepiting, Kabupaten Badung, sebagai bagian dari upaya memperbaiki ekosistem mangrove di Indonesia.
Feri Kristianto | 22 April 2017 19:45 WIB
Hutan bakau atau mangrove - Istimewa

Kabar24.com, DENPASAR - Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia menanam 1.000 bibit mangrove di Kampung Kepiting, Kabupaten Badung, sebagai bagian dari upaya memperbaiki ekosistem mangrove di Indonesia.

Coastal and Small Islands Officer Yayayasan KEHATI Herman Suparman Simanjuntak, mengatakan penanaman ini untuk mempromosikan perlindungan, pemulihan, pengelolaan, dan pemanfaatan ekosistem mangrove, serta menunjukan komitmen Indonesia dalam konservasi ekosistem mangrove.  

"Setelah penanaman ini, akan dilaksanakannya pendampingan masyarakat di Kampung Kepiting, supaya lebih memahami arti penting mangrove, serta memanfaatkannya secara lestari, sehingga dapat membantu perekonomian masyarakat setempat," jelasnya dikutip dari siaran pers, Sabtu (22/4/2017).

Adapun penanaman 1.000 bibit mangrove tersebut didahului dengan penanaman 30 bibit mangrove secara simbolik yang diikuti oleh perwakilan peserta Konferensi Mangrove Internasional (KMI) 2017 di Taman Hutan Rakyat (Tahura) Ngurah Rai, Bali.‎ Mereka yang terlibat dalam penanaman secara simbolik di antaranya perwakilan peserta dari Amerika Serikat, Thailand, Madagaskar, Srilanka, Filipina, Brazil, Malaysia, Singapura, dan Indonesia.

Selanjutnya, kegiatan penanaman 1.000 bibit mangrove di Kampung Kepiting, akan dilanjutkan oleh PPLH Bali. Ekosistem mangrove, sebagai salah satu ekosistem paling produktif di dunia, mampu memproduksi berbagai macam barang dan jasa lingkungan. Jika dikelola secara lestari, ekosistem mangrove dapat mendukung mata pencaharian jutaan nelayan yang tinggal di kawasan pesisir.

Ekosistem ini juga merupakan tempat penyimpanan sementara kandungan karbon global yang signifikan.

"Tapi, daerah hutan mangrove di banyak negara tropis telah menurun karena manajemen yang buruk dan pembangunan infrastruktur yang cepat," imbuh Herman.

Direktur Eksekutif Yayasan KEHATI MS Sembiring, mengungkapkan, luas hutan mangrove di Indonesia diperkirakan mencapai 3.489.140,68 hektar atau meliputi 23% ekosistem mangrove dunia. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai negara dengan kekayaan mangrove terbesar di dunia.

Dengan kondisi tersebut, maka sudah sepatutnya negeri ini menjadi pemimpin ataupun pionir dalam hal pelestarian dan pembangunan berkelanjutan dalam ekosistem mangrove.

“Kekayaan mangrove yang sedemikian luas semestinya dapat menjadi modal bagi Indonesia untuk memperkuat posisinya dalam pembangunan pesisir berkelanjutan di mata dunia,” kata Sembiring.

Namun, tantangan Indonesia tak mudah. Indonesia memiliki kecepatan kerusakan mangrove terbesar di dunia. Pada dekade pertama abad ke-21 saja tak kurang dari 40% hutan mangrove telah musnah. Pada 2015, deforestasi mangrove Indonesia terhitung sebesar 6% dari total kehilangan hutan tahunan, meskipun hanya menutupi kurang dari 2% total wilayah hutan negara.

Jumlah ini setara 0,05 juta hektar dari total 0,84 juta hektar deforestasi tahunan di Indonesia.

Oleh karena itu, sebagai lembaga yang mengemban visi sebagai agen perubahan yang terpercaya dalam mendukung pelestarian dan pemanfaatan keanekaragaman hayati secara adil dan berkelanjutan di Indonesia, lanjut Sembiring, Yayasan KEHATI berkomitmen untuk terus berpartisipasi dalam perbaikan ekosistem hutan mangrove yang rusak tersebut.

"Termasuk melalui kegiatan penanaman mangrove di pesisir semacam ini, yang setiap tahun kami lakukan. Di samping itu, Yayasan KEHATI juga mendukung dan memfasilitasi pemangku kepentingan dalam upaya mengembalikan ekosistem hutan mangrove," tandas Sembiring.

Tag : mangrove
Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top