Utang dan Aset Tak Sebanding, PT Kembang 88 Butuh Perdamaian

Perdamaian dalam restrukturisasi utang PT Kembang 88 Multifinance dinilai sangat penting, karena bakal mengurangi kerugian kreditur apabila perusahaan pembiayaan itu jatuh pailit.
David Eka Issetiabudi | 19 April 2017 19:49 WIB
Pailit - Ilustrasi/repro

Kabar24.com, JAKARTA — Perdamaian dalam restrukturisasi utang PT Kembang 88 Multifinance dinilai sangat penting, karena bakal mengurangi kerugian kreditur jika dibandingkan perusahaan pembiayaan itu jatuh pailit.

Kembang 88 saat ini berada dalam masa penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) via Pengadilan Niaga Jakarta Pusat. Utang perseroan yang mencapai Rp1,5 triliun sangat jauh dibandingkan nilai aset yang hanya Rp866 miliar—berdasarkan neraca keuangan debitur per 31 Desember 2016.

Salah satu pengurus PKPU PT Kembang 88 Andrey Sitanggang menyatakan perdamaian menjadi krusial karena tidak akan terlalu membuat kreditur merugi. Berbeda jika debitur masuk dalam kepailitan.

Pasalnya, ada selisih yang besar antara aset dan kewajiban kepada para kreditur. Jumlah aset PT Kembang 88 senilai Rp866 miliar, yang terdiri dari piutang Rp504 miliar, agunan Rp185 miliar dan piutang lainnya Rp177 miliar.

Adapun, jumlah kewajiban debitur kepada kreditur mencapai Rp1,5 triliun. Utang tersebut berupa kredit perbankan Rp1,3 triliun dan utang lainnya Rp200 miliar.

Daftar kreditur yang dimiliki tim pengurus antara lain PT Bank Muamalat Indonesia Tbk., PT Bank CIMB Niaga Tbk., PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk., BRI Syariah, PT Bank QNB Indonesia Tbk., PT Bank JTrust Indonesia Tbk., PT Bank Syariah Mandiri, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk., PT Bank Bukopin Tbk., dan Bank Commonwealth.

Tingginya utang kepada perbankan, berdampak atas ditahannya lebih dari 2.900 BPKB oleh pemberi pinjaman, meskipun konsumen perusahaan pembiayaan itu sudah melakukan pelunasan. Padahal, bagi Kembang 88, penyerahan BPKB ke konsumen menjadi prioritas untuk meredam dan mengurang pengaduan konsumen.

“Harusnnya uang yang dibayarkan konsumen [pelunasan BPKB] itu juga untuk membayar utang,” tutur Andrey, Rabu (19/4/2017).

Bank yang menahan paling banyak menahan BPKB dari konsumen Kembang 88 adalah Bank CIMB Niaga sebanyak 562 BPKB, disusul oleh Bank JTrust  Indonesia 450 BPKB, dan Bank Syariah Mandiri dengan 232 BPKB.  

Sementara itu, terkait dengan proposal perdamaian yang disodorkan Kembang 88, pengurus menyebut bahwa debitur tidak dapat lagi meningkatkan nilai yang ditawarkan. Kreditur merasa kurang puas dengan apa yang diajukan debitur dalam proposal.

Walaupun Kembang 88 sudah mendapatkan perpanjangan masa penundaan kewajiban pembayaran utang selama 30 hari—yang seharusnya berakhir 24 Maret 2017, namun debitur sudah tak bisa lagi mencari investor.

“Saya kira nominalnya tidak ada yang berubah, tetapi kan, di proposal terakhir perusahaan menawarkan personal guarantee, itu tetap bisa ‘menggigit’,” tuturnya.

Meski nominal proposal perdamaian tidak bisa diubah lagi, Andrey menganggap tahap ini belum mencapai final. Menurutnya, kreditur masih memerlukan persetujuan dari direksi, apakah sesuai dengan yang ada sekarang atau menolak.

Penawaran lain adalah adanya jaminan perorangan yang dianggap sebagai tanggung jawab moral. Perorangan tetap bisa menjadi jaminan, jika nama yang disodorkan punya reputasi dan kepercayaan. “Bagi pihak bank hal ini memang pahit, tetapi tidak ada pilihan,” tambahnya.

Untuk menunggu finalisasi, akhirnya rapat kreditur secara aklamasi menyetujui adanya perpanjangan PKPU. Akan tetapi, untuk menentukan jumlah hari, bakal ditentukan pada Jumat (21/4).

Terpisah, perwakilan PT Kembang 88 Multifinance Kushariansyah mengatakan perusahaan sudah angkat tangan jika diminta untuk meningkatkan lagi nilai dalam proposal perdamaian. “Kalau bicara angka, itu sudah maksimal.”

 

Tag : pkpu
Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top