Kemenristekdikti Gelorakan Bakti Teknologi

Dalam rangka peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional ke-22 yang akan dipusatkan di Makassar pada Agustus mendatang, Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi menggelorakan inovasi salah satunya kegiatan Bakti Teknologi untuk Negeri Tanam Serempak Padi Unggul di 22 titik di Provinsi Sulawesii Selatan.
MG Noviarizal Fernandez
MG Noviarizal Fernandez - Bisnis.com 14 April 2017  |  18:19 WIB
Kemenristekdikti Gelorakan Bakti Teknologi
Petani bersiap menanam padi - Antara/Basri Marzuki

Bisnis.com, JAKARTA - Dalam rangka peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional ke-22 yang akan dipusatkan di Makassar pada Agustus mendatang, Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi menggelorakan inovasi salah satunya kegiatan Bakti Teknologi untuk Negeri Tanam Serempak Padi Unggul di 22 titik di Provinsi Sulawesii Selatan.

Dalam rilis yang diterima Jumat (14/4/2017), Direktur Sistem Inovasi Kemenristekdikti Ophirtus Sumule mengatakan demi terwujudnya Provinsi Sulawesi Selatan sebagai lumbung pangan, Kemenristekdikti mengawalinya dengan program Training of Trainer (TOT) Implementasi Intesifikasi Padi Aerob Terkendali-Berbasis Organik kepada para Petugas Penyuluh Lapangan dan kelompok tani.

Inovasi akan menggerakkan ekonomi masyarakat dan tujuan dari inovasi ini untuk meningkatkan daya saing bangsa. Bagaimana memperkuat Sulawesi Selatan sebagai lumbung pangan sehingga kita bersama-sama memyusun program ini untuk membangun sinergi antara dunia perguruan tinggi, lembaga litbang, pemerintah daerah dan dunia usaha,” ujarnya.

Ophirtus menambahkan kegiatan ini tidak berhenti di sini saja, karena kegiatan ini akan terus bergulir yang merupakan kontribusi dari perguruan tinggi maupun lembaga penelitian dalam rangka meningkatkan daya saing bangsa.

Ketua Panitia Gunawan Wiebysana mengatakan program ini merupakan kegiatan tanam serentak benih unggul padi di 24 Kabupaten Propinsi Selawesi Selatan, diawali dengan program TOT untuk melatih PPL dan kelompok tani untuk mengimplementasikan teknologi padi aerob yang memiliki berbagai keunggulan.

Sementara itu Tualar Simarmata yang mengembangkan teknologi padi erob sejak 2006 menjelaskan pengembangan ini merupakan kerja sama Universitas Padjajaran dengan Kemenristekdikti, kemudian teknologi ini berkembang cepat dari 2006 sampai sekarang. Teknik ini menurutnya akan menghemat bibit, menghemat penggunaan air, serta memanfaatkan pupuk berbasis organik dan hayati.

Hasil dari teknologi ini, paparnya mampu mengurangi penggunaan air hingga 35%, mengurangi pemakaian pupuk anorganik sebesar 25%, serta menghemat bibit hingga 50%. Teknologi padi aerob juga mampu menaikkan produktivitas lahan sampai dua kali lipat.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kemenristekdikti

Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top