Pembunuhan Dubes Rusia Diduga Terkait Insiden Aleppo

Penembakan oleh seorang aparat polisi Turki atas Duta Besar Rusia untuk Turki, Andrei Karlov diduga merupakan aksi protes atas keterlibatan Rusia di Aleppo, Suriah.
John Andhi Oktaveri | 20 Desember 2016 11:28 WIB
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan - Reuters

Kabar24.com, JAKARTA - Penembakan oleh seorang aparat polisi Turki atas Duta Besar Rusia untuk Turki, Andrei Karlov diduga merupakan aksi protes atas keterlibatan Rusia di Aleppo, Suriah.

Sang pembunuh bernama Mevlut Mert Aydintas tersebut dilaporkan berusia 22 tahun dan menjadi anggota polisi anti-huru-hara Ankara. Masih belum jelas apakah dia memiliki kaitan dengan kelompok tertentu atau tidak.

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, mengatakan serangan tersebut ditujukan untuk mengganggu hubungan negara itu dengan Rusia.

Dia juga sudah berbicara dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin, lewat telepon dan mengatakan keduanya sepakat bahwa tindakan itu sebagai 'provokasi'.

Ditambahkan, bahwa mereka yang ingin merusak hubungan kedua negara 'tidak akan mencapainya'.

Sebelumnya, juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova menyebut pembunuhan Andrei Karlov di ibu kota Ankara sebagai sebagai tindak terorisme.

Menurutnya, Turki sudah memberi jaminan akan melakukan penyelidikan menyeluruh dan pihak-pihak yang terlibat akan dihukum.

"Terorisme tidak akan lolos! Kami akan memeranginya dengan sungguh-sungguh," ujar Zakharova sebagaimana dikutip BBC.co.uk, Selasa (20/12/2016).

Andrei Karlov tewas ditembak di sebuah galeri seni di Ankara, Senin kemarin dan sempat dibawa untuk perawatan darurat karena menderita cedera serius namun meninggal dunia di rumah sakit.

Dia merupakan diplomat berpengalaman dan pernah bertugas sebagai duta besar Uni Soviet di Korea Utara pada masa 1980-an.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
rusia, turki

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top