Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Dituding Rugikan Ahok-Djarot di Survei, Begini Argumen Kedai KOPI

Pendiri lembaga survei Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia (Kedai KOPI) Hendri Satrio membantah jika hasil survei yang dilakukan oleh lembaganya hanyalah asal-asalan dengan cukup mengotak-atik angka dibalik layar komputer.
Dewi Aminatuz Zuhriyah
Dewi Aminatuz Zuhriyah - Bisnis.com 31 Oktober 2016  |  14:38 WIB
Calon Gubernur DKI Jakarta yang juga petahana Basuki Tjahaja Purnama (tengah) tiba di kantor DPP PDI Perjuangan di Jakarta, Senin (24/10). - Antara
Calon Gubernur DKI Jakarta yang juga petahana Basuki Tjahaja Purnama (tengah) tiba di kantor DPP PDI Perjuangan di Jakarta, Senin (24/10). - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Pendiri lembaga survei Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia (Kedai KOPI) Hendri Satrio membantah bahwa hasil survei yang dilakukan oleh lembaganya hanyalah asal-asalan dengan cukup mengutak-atik angka di balik layar komputer.

“Kami jamin tidak ada rekayasa. Semua data di lapangan adalah asli,” ujar Hendri saat dihubungi Bisnis, Senin (31/10/2016).

Hendri mengungkapkan saat ini pihaknya masih melakukan cek ulang atas sistem website dan data yang terunggah. Bantahan Hendri merupakan respons atas laporan tim relawan Ahok-Djarot yang bernama Sekretariat Bersama Rakyat (Sekber) kepada KPUD DKI Jakarta dengan tuduhan bahwa Kedai KOPI telah melakukan manipulasi data survei.

Ketua Umum Sekber Mixil Mina Munir mengatakan lembaga survei bentukan Hendri Satrio itu sudah bertindak tak adil dan terkesan berat sebelah. “Itu hasilnya benar apa manipulasi data. Kok hasilnya bisa segitu,” kata Mina di gedung KPUD DKI Jakarta.

Dalam survei Kedai KOPI, tingkat keterpilihan Ahok-Djarot disebutkan hanya 27,5% atau berkurang 6,5% dari survei sebelumnya yakni mencapai 34%. Sementara Anies-Sandi 23,9% dan Agus-Sylvi mencapai 21%. “Kami menduga mereka sudah mengeluarkan hasil survei bohong untuk mempengaruhi suara publik,” imbuhnya.

Mixil mengatakan dalam pelaporan ini pihaknya juga membawa barang bukti seperti hasil survei yang dinilai janggal yakni tingkat keikutsertaan sampel yang mencapai 120%.

Untuk diketahui, survei yang diluncurkan Kedai Kopi ini dilakukan pada 19-24 Oktober 2016, dengan metodologi acak bertingkat. Jumlah responden sebanyak 694 orang dengan demografi masyarakat usia rentang 30-50 tahun.

Oleh karena itu, menanggapi perselisihan tersebut pihak KPUD DKI Jakarta mengimbau agar lembaga survei segera mendaftar ke KPUD untuk memastikan netralitas dari lembaga survei tersebut.

Sebab, akan banyak lembaga survei bermunculan menjelang hari pemungutan suara baik di pilkada maupun pilpres. Tak tanggung-tanggung hasil survei tersebut seringkali mempengaruhi masyarakat dalam menentukan pilihan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Pilkada DKI 2017
Editor : Yusuf Waluyo Jati
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top