Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ikrar Nusa Bhakti: LSI Konsultan Politik Salah Satu Cagub, Hasil Survei Ganjil

Pengamat politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Ikrar Nusa Bhakti mempertanyakan hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) pimpinan Denny JA yang dinilai mempublikasikannya karena LSI konsultan politik salah satu calon dan juga mencari pasar.
Martin Sihombing
Martin Sihombing - Bisnis.com 07 Oktober 2016  |  15:27 WIB
Foto wefie para cagub dan cawagub DKI bersama dokter di RSAL Mintohardjo. - youtube
Foto wefie para cagub dan cawagub DKI bersama dokter di RSAL Mintohardjo. - youtube

Bisnis.com, JAKARTA -  Pengamat politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Ikrar Nusa Bhakti mempertanyakan hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) pimpinan Denny JA yang dinilai mempublikasikannya karena LSI konsultan politik salah satu calon dan juga mencari pasar.

"Survei LSI Denny JA dilakukan sebagai konsultan politik salah satu calon," kata Ikrar di Jakarta, Jumat (7/10/2016).

Ia juga mempertanyakan, apa yang disebut sebagai simulasi dalam survei itu hanya penjumlahan dari perolehan Anies Baswedan dan Agus Yudhoyono.

"Sulit menguji apakah benar pendukung Agus sepenuhnya akan bermigrasi ke Anies, atau sebaliknya, di putaran kedua," katanya.

Asumsi migrasi dukungan didasarkan pada sentimen keengganan pemilih Islam memilih Ahok, yang menurut LSI mencapai 40%. Asumsi tersebut sulit diterima mengingat berdasarkan sebaran dukungan, dukungan Ahok dari pemilih Muslim justru lebih besar (27,7%), Anies (22,8%) dan Agus (20,6%).

Disebutkan, angka elektabilitas Ahok pada survei Oktober turun ke 31,4%. Angka ini sama dengan simulasi tiga pasangan di mana pasangan Ahok-Djarot juga memperoleh suara 31,4%.

Angka itu dinilai ganjil karena berarti Djarot tidak memberikan andil suara.

Ikrar juga menyayangkan isu SARA menyertai hasil survei itu, padahal selama ini Denny JA dikenal sebagai tokoh yang sangat menentang isu SARA.

"Jadi ini survei independen atau dibayar untuk pengaruhi opini? Sebab kalau ini terus-menerus dibiarkan akan menjadi pembenaran," katanya.

Sementara itu, peneliti utama LIPI Siti Zuhro menegaskan perlu pengaturan untuk memisahkan antara lembaga survei dengan konsultan politik maupun tim sukses, agar tidak terjadi pembohongan publik.

"Saya setuju kalau dipisahkan antara lembaga survei, konsultan politik dan tim sukses," kata Peneliti Utama LIPI Siti Zuhro.

Lebih lanjut Siti Zuhro menjelaskan lembaga survei mulai tidak karuan kiprahnya sejak 2008. Menurut Zuhro seharusnya lembaga survei terbuka, transparan serta berintegritas.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

lsi survei

Sumber : ANTARA

Editor : Martin Sihombing
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top