Pengamat: PDI-P Kemungkinan Tak akan Usung Ahok di Pilkada DKI 2017

Direktur Eksekutif lembaga kajian politik Vox Populi Center, Pangi Syarwi Chaniago, mengungkapkan sejumlah hal, yang menurutnya menjadi alasan mengapa Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) tak akan mengusung Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dalam Pemilihan Kepala Daerah 2017.
Newswire | 25 Agustus 2016 02:29 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Direktur Eksekutif lembaga kajian politik Vox Populi Center, Pangi Syarwi Chaniago, mengungkapkan sejumlah hal, yang menurutnya menjadi alasan mengapa Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) tak akan mengusung Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dalam Pemilihan Kepala Daerah 2017.

“PDIP yang berbeda dengan partai lain, tentu punya pakem tersendiri dalam mengusung seorang calon kepala daerah,” ujar Pangi lewat keterangan pers, Rabu (24/8/2016).

Pangi berpendapat PDIP sangat memperhatikan loyalitas, dan tak akan memilih Ahok, yang dianggap sering bersikap tak konsisten. “Gubernur Ahok adalah politisi kutu loncat, beberapa kali meninggalkan partai politik yang mengusungnya jadi bupati dan gubernur,” ujarnya.

Ahok disebutnya tak konsisten saat menolak cuti selama masa kampanye. Sikap itu, kata Pangi, tak sejalan dengan apa yang diungkapkan Ahok saat Pemilihan Gubernur DKI Jakarta pada 2012, saat dia mendesak calon petahana untuk cuti. “Sikap yang tak konsisten dapat mengurangi kepercayaan publik terhadap sosok Ahok.”

Pangi tak menutup kemungkinan bahwa PDIP bisa ditinggalkan di kemudian hari, jika mengusung Ahok. Dia pun berpendapat bahwa Presiden Joko Widodo, yang diusung PDIP, kini dekat dengan partai besar lain, yaitu Golkar.

“Pikiran ekstrimnya, bagaimana kalau kemudian PDIP ditinggal Jokowi? Ahok sudah pernah merecoki Golkar dan partai Gerindra. Kalau tidak terbendung, skema Jokowi berpasangan dengan Ahok pada Pilpres 2019 itu alasan yang logis,” kata dia.

Menurut Pangi mewakili Voxpol, bukan tak mungkin kedua tokoh tersebut menunggangi parpol lain agar bisa menang. Baginya tak mustahil pengaruh Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri bakal melemah, sementara pengaruh Jokowi menguat.

Penolakan publik terhadap pencalonan Ahok sebagai gubernur pun disebut cukup tinggi, karena akumulasi kekecewaan. Ahok dianggap gagal memompa pemerintahan provinsi ke arah yang lebih baik.

Sejumlah kegagalan yang disebut Pangi, antara lain lemahnya daya serap Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) DKI, naiknya angka kemiskinan menjadi 15.630 orang.

Ahok pun disebut gagal menyiapkan perumahan murah bagi warganya. “Dia kurang menunjukkan etika dan moral, berbicara sesuka hati. Pengusuran semena-mena, namun mendukung reklamasi.”

Kata Pangi, PDIP memiliki banyak kader potensial, seperti Tri Rismaharini, Ganjar Pranowo, Djarot Saiful Hidayat, hingga Boy Sadikin. Sederet tokoh tersebut dianggap mampu bersaing dengan Ahok yang kuat sebagai inkumben. “Mengapa PDIP harus mengusung Ahok, padahal jelas punya kader terbaik? Itu pertanyaan retoris yang logis,” ujar Pangi.

Dia pun beropini bahwa publik sedang digiring dengan opini ‘PDIP hampir pasti mendukung Ahok’. Ahok yang bertandang ke kantor Dewan Pimpinan Pusat PDIP pada 17 Agustus lalu sempat mengklaim bahwa dirinya mendapat sinyal positif dari Megawati.

Meski sempat membahas pencalonan menjelang Pilkada 2017, Ahok membantah bahwa pertemuannya dengan Megawati tersebut karena ingin mendaftarkan diri, agar diusung PDIP.

Sumber : tempo.co

Tag : Pilkada DKI 2017
Editor : Yusuf Waluyo Jati

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top