Diduga Terkait Kurdi, Turki Tahan Novelis Perempuan

Pengadilan Turki menahan novelis peraih penghargaan, Asli Erdogan, karena diduga terhubung dengan pegaris keras Kurdi, kata koran "Haberturk", tiga hari sesudah perempuan itu beserta dua lusin pegawai dari harian pendukung Kurdi "Ozgur Gundem" ditangkap.
Newswire | 21 Agustus 2016 06:59 WIB
Seorang pria melambaikan bendera Turki usai percobaan kudeta militer ke Presiden Tayyip Erdogan, Sabtu (16/7/2016) - Reuters

Kabar24.com, JAKARTA - Pengadilan Turki menahan novelis peraih penghargaan, Asli Erdogan, karena diduga terhubung dengan pegaris keras Kurdi, kata koran "Haberturk", tiga hari sesudah perempuan itu beserta dua lusin pegawai dari harian pendukung Kurdi "Ozgur Gundem" ditangkap.

"Ozgur Gundem" ditutup atas perintah pengadilan karena menyebarkan propaganda Partai Buruh Kurdistan (PKK), yang dianggap sebagai teroris oleh pemerintah Turki, Amerika Serikat, dan Uni Eropa.

Turki menutup lebih dari 130 media sejak keadaan darurat ditetapkan pasca-kudeta gagal pada 15 Juli 2016.

Gerakan itu membuat sekutu Barat dan pegiat hak asasi khawatir atas penurunan kebebasan mengungkapkan pendapat bagi pers.

Pemerintah Turki menyangkal bahwa penutupan itu terkait keadaan darurat.

Akan tetapi, pengawas media internasional beranggapan, hal itu bagian dari kebijakan pemerintah pasca kudeta.

Asli Erdogan, novelis, adalah anggota dewan penasihat koran tersebut. Ia ditahan di penjara Istanbul atas tuduhan awal "terlibat dalam keanggotaan organisasi teroris" dan "ancaman bagi kesatuan nasional", kata "Haberturk", media pro-pemerintah, dalam lamannya.

Media lain turut memberitakan informasi serupa.

Surat kabar itu menjelaskan, dua redaktur koran tersebut masih ditahan.

Seluruh pegawai "Ozgur Gundem" berjumlah 25 orang ditahan pada Selasa karena dituduh mendukung PKK. Aksi itu merupakan lanjutan dari penutupan koran dengan sirkulasi 7.500 eksemplar.

Langkah tersebut menambah daftar pekerja media Turki yang ditahan hingga mencapai 100 orang, kata Federasi Wartawan Eropa (EFJ), lembaga pengawas media, demikian laporan Reuters.

Jumlah itu menempatkan Turki sebagai negara pemenjara wartawan terbanyak di dunia.

Namun, koran pro-pemerintah "Sabah" mengatakan, 22 pegawai "Ozgur Gundem" telah dibebaskan.

"Ozgur Gundem" banyak membahas kemelut PKK di Turki tenggara, yang dihuni sebagian besar suku Kurdi.

Media itu banyak didenda, diselidiki, bahkan korespondennya ditangkap sejak 2014.

PKK memberontak selama tiga dasawarsa, mewakili 15 juta warga Kurdi di Turki, menuntut otonomi lebih luas.

Lebih dari 40 ribu orang tewas dalam kekerasan terkait kemelut tersebut.

Sumber : Antara

Tag : turki
Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top