Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kabut Asap: Pemadaman Karhutla di Sumsel Mulai Terkendala

Satgas penanggulangan kebakaran hutan dan lahan di Sumatra Selatan mulai menghadapi kendala dalam melakukan pemadaman melalui udara akibat pekatnya kabut asap di provinsi itu yang berpengaruh terhadap jarak pandang.
Dinda Wulandari
Dinda Wulandari - Bisnis.com 29 September 2015  |  17:09 WIB
Teknisi Helikopter MI 171 milik BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) memeriksa mesin Helikopter MI 171 di Base Off Landasan Udara TNI AU Palembang yang diselimuti kabut asap, Sumatera Selatan, Kamis (27/8/2015). Helikopter tersebut menunggu jarak pandang membaik untuk melakukan pemadaman kebakaran lahan melalui udara (water boombing) dikarenakan jarak pandang yang menurun hingga 400 meter pada pagi hari karena kabut asap. - Antara/Nova Wahyudi
Teknisi Helikopter MI 171 milik BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) memeriksa mesin Helikopter MI 171 di Base Off Landasan Udara TNI AU Palembang yang diselimuti kabut asap, Sumatera Selatan, Kamis (27/8/2015). Helikopter tersebut menunggu jarak pandang membaik untuk melakukan pemadaman kebakaran lahan melalui udara (water boombing) dikarenakan jarak pandang yang menurun hingga 400 meter pada pagi hari karena kabut asap. - Antara/Nova Wahyudi

Kabar24.com, PALEMBANG -- Satgas penanggulangan kebakaran hutan dan lahan di Sumatra Selatan mulai menghadapi kendala dalam melakukan pemadaman melalui udara akibat pekatnya kabut asap di provinsi itu yang berpengaruh terhadap jarak pandang.

Komandan Satgas penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) Tri Winarno mengatakan pihaknya cukup kesulitan melakukan operasi udara dengan jarak pandang yang hanya sekitar 700 meter.

"Memang ada pesawat yang belum berangkat karena jarak pandang yang pendek. Kami juga harus memperhatikan faktor keamanan saat melakukan pemadaman," katanya, Selasa (29/9).

Dia mengatakan selain kendala jarak pandang, satgas juga mulai kesulitan mendapatkan sumber air untuk water bombing akibat musim kemarau yang masih
terus berlangsung di Sumsel.

Dia menambahkan saat ini terdapat tujuh helikopter yang dikerahkan untuk water bombing.

Apalagi, kata Tri, pihaknya membutuhkan sumber air yang cukup banyak karena harus memadamkan lahan gambut yang terbakar luas.

Oleh karena itu, dia menambahkan, satgas menambah efektivitas langkah pemadaman lain, seperti operasi darat.

"Kami mengerahkan seluruh masyarakat, aparat desa, dan pemerintah daerah untuk upaya pemadaman lewat darat," katanya.

Satgas yang terdiri dari berbagai instansi itu sebetulnya diberi tenggat waktu hingga Rabu (30/9) untuk menuntaskan penanganan karhutla di Sumsel.

Akan tetapi, Tri memastikan, pihaknya akan tetap bergerak melakukan penanganan kebakaran jika memang kondisi masih berlanjut hingga lewat tenggat.

"Penanggulangan jalan terus, kami menyesuaikan saja, akan tetap melaksanakan tugas," katanya.

Saat ini terdapat 1.065 personel TNI yang bertugas menangani pemadaman karhutla di provinsi Sumsel dan akan diperpanjang masa tugasnya.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Kabut Asap Karhutla
Editor : Saeno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top