Walhi: Tahun Ini Puncak Bencana Kabut Asap

Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Abetnego Tarigan mengatakan bahwa asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Sumatera serta Kalimantan yang terjadi tahun ini menjadi puncak bencana kabut asap dari tahun-tahun sebelumnya
Walhi: Tahun Ini Puncak Bencana Kabut Asap Newswire | 12 September 2015 21:55 WIB
Walhi: Tahun Ini Puncak Bencana Kabut Asap
Petugas Apron Movement Control (AMC) Bandara Sultan Thaha Jambi mengecek kondisi pesawat Susi Air jenis Caravan C.208B yang diparkir di landasan yang diselimuti kabut asap di Jambi, Kamis (3/9). - Antara

Bisnis.com, JAKARTA-- Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Abetnego Tarigan mengatakan bahwa asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Sumatera serta Kalimantan yang terjadi tahun ini menjadi puncak bencana kabut asap dari tahun-tahun sebelumnya

"Ini puncaknya bencana kabut asap," kata Abetnego di Jakarta, Sabtu (12/9/2015).

Menurutnya, siklus kabut asap terjadi dalam setiap sepuluh tahun sebelumnya, yakni pada tahun 1998 kemudian tahun 2008.

"Kalau dulu siklusnya 10 tahun, sekarang tujuh tahun. Ini harus jadi perhatian pemerintah," ujarnya.

Abetnego mengatakan, lebih cepatnya siklus tersebut disebabkan oleh beberapa faktor termasuk situasi lingkungan yang semakin buruk serta dampak perubahan iklim. Oleh karena itu, lanjutnya, pemerintah harus menyikapi bencana yang telah mengakibatkan puluhan juta orang terpapar asap itu dengan serius dan cepat.

"Ini dibutuhkan emergensi respons. Pemerintah harus total, termasuk dari strukturalnya, seperti soal perizinan dan pelrindungan gambut. Kalau tidak, akan terjadi lagi, terbakar lagi," tutur Abetnego.

Dia menambahkan bahwa lahan gambut harus benar-benar dilindungi karena sejak tahun 1997, titik api berada di lahan gambut. Menurutnya, pemerintah harus segera meninjau kembali kebijakan yang masih bersikap permisif atas perlindungan lahan gambut.

"Lahan gambut tidak usah diutak atik lagi, lahan gambut harus dilindungi," katanya.

Selain itu, tambahnya, pemerintah harus melihat kerugian yang diderita masyarakat yang terkena bencana kabut asap serta dampaknya terhadap ekosistem.

Berdasarkan data yang dikeluarkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebanyak 22,6 juta jiwa terpapar asap di Sumatera dan 3 juta jiwa di Kalimantan.

Hingga Jumat (11/9), ada 665 titik panas terdeteksi di wilayah Sumatera, termasuk Sumatera Selatan (475), Bengkulu (10), Jambi (83), Bangka Belitung (45), Lampung (25), Riau (12), Sumatera Barat (8), Kepulauan Riau (5), Sumatera Utara dan Aceh (1). BNPB juga menyatakan bahwa hampir 80 persen wilayah Kalimantan tertutup asap dengan tingkat kepekatan sedang hingga tinggi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Kabut Asap

Sumber : Antara

Editor : Hendri Tri Widi Asworo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top