Korban Akibat Pelemparan Batu ke Rangkaian Kereta Api Rangkasbitung-Merak Makin Banyak

Korban Akibat Pelemparan Batu ke Rangkaian Kereta Api Rangkasbitung-Merak Makin Banyak
Newswire | 02 Agustus 2015 17:30 WIB
Ilustrasi - Antara

Kabar24.com, JAKARTA - Korban-korban akibat pelemparan batu ke rangkaian kereta api Rangkasbitung-Merak, Banten, belakangan ini makin banyak sebulan terakhir. Di antara korban bahkan hampir buta.

"Kami sudah beberapa kali melakukan sosialisasi dan penyuluhan kepada masyarakat agar tidak ada pelemparan batu terhadap perjalanan KA," kata Kepala Stasiun Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Urip, di Lebak, Minggu.

Ia mengatakan, selama sebulan terakhir ini korban pelemparan batu hingga mencapai puluhan orang.

"Bahkan, di antara penumpang yang kena batu itu luka parah bagian mata hingga terancam buta," katanya. Banyak juga yang luka bocor kepalanya, telinga berdarah, dan lain sebagainya. 

Pelemparan batu itu mulai perjalanan Stasiun Catang, Pasir Manggu, Cikeusal, Walantara, Serang, Karangantu, Ciegon hingga Merak.

"Kami berharap masyarakat tidak melakukan pelemparan perjalanan KA karena bisa melukai penumpang yang tidak berdosa juga merusak kereta," katanya.

Menurut dia, saat ini warga pelempar batu itu itu tidak memiliki rasa iba atau kasihan kepada orang lain.

Sebab banyak penumpang menjadi korban pelemparan batu hingga mengalami luka bagian kepala, telinga sampai pelipis mata.

Karena itu, PT Kereta Api Indonesia akan berkoordinasi dengan kepolisian dan tokoh masyarakat untuk mencegah aksi pelemparan itu. 

Pelaku diancam pasal-pasal dalam UU Nomor 23/2007 tentang Kereta Api, terutama pada pasal 180-nya. 

Pasal 180 UU NOmor 23/2007 itu menyatakan, setiap orang dilarang menghilangkan,merusak, atau melakukan perbuatan yang mengakibatkan rusak dan atau tidak berfungsi sarana dan prasaran perkereapian.

Mereka para pelaku pelemparan itu bisa dikenakan hukuman penjara paling lama 15 tahun.

Suryadi, seorang penumpang mengaku dirinya menjadi korban pelemparan batu saat menuju perjalanan Stasiun Cilegon-Karangantu. Ia kini ditangani Klinik Pengobatan PT KAI Rangkasbitung karena bagian kepala mengeluarkan darah.

"Kami tidak menyangka menjadi korban pelemparan saat duduk terdengar brak dan melukai bagian kepalanya," kata Urip.

Sumber : Antara

Tag : kereta api
Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top