Pemda Purwakarta Minta Dukungan Jaringan Air Minum ke PUPR

Pemerintah Kabupaten Purwakarta meminta pemerintah pusat untuk memberi dukungan pembangunan infrastruktur jaringan air bersih menuju sejumlah kawasan industri di kabupaten melalui penyaluran dana alokasi khusus mencapai Rp250 miliar pada 2016.
Emanuel B. Caesario | 17 Maret 2015 20:30 WIB
Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi - Kaskus

Bisnis.com, JAKARTA - Pemerintah Kabupaten Purwakarta meminta pemerintah pusat untuk memberi dukungan pembangunan infrastruktur jaringan air bersih menuju sejumlah kawasan industri di kabupaten melalui penyaluran dana alokasi khusus mencapai Rp250 miliar pada 2016.

Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi mengatakan, usai pembatalan UU No. 7/2004 tentang Sumber Daya Air, sejumlah kawasan industri di Purwakarta yang mengandalkan sumber air bawah tanah terancam tidak dapat beroperasi.  Kawasan industri tersebut tersebar di wilayah Kecamatan Campaka, Cibatu, Bungursari dan Babakan Cikao.

Dedi mengatakan, pemanfaatan air bawah tanah untuk indusitr sebenarnya sudah tidak lagi mendapatkan izin dari SPAM Provinsi Jawa Barat. Namun, pemerintah daerah tidak dapat mencabut izin pemanfaatan air bawah tanah karena belum tersedia infrastruktur jaringan air bersih untuk mendukung kawasan industri tersebut.

“Mereka tidak punya sumber air lain selain itu. Kalau izinya dicabut, mereka tidak bisa berproduksi lagi dan akan banyak sekali yang jadi pengangguran di sana,” katanya, Selasa (17/3/2015).

Dedi mengungkapkan total kebutuhan untuk pembangunan jaringan air bersih ini mencapai Rp250 miliar, sementara pemda baru mengalokasikan Rp15 miliar. Untuk itu, pihaknya berharap ada dukungan dana dari pemerintah pusat melaui DAK agar jaringan air bersih tersebut dapat tersedia di 2016.

“Kami telah bicarakan dengan menteri (PUPR) dan beliau setuju untuk jadikan ini prioritas,” katanya.

Jaringan air bersih tersebut menurutnya tidak saja untuk kawasan industri, tetapi juga untuk masyarakat Purwakarta pada umumnya. Jika jaringannya sudah selesai, pemda akan menyerahkannya kepada PDAM untuk disambungkan dengan sumber air Jatiluhur.

“Air yang di Jakarta kan asalnya dari Purwakarta, sedangkan masyarakat Purwakarta sendiri malah kekuarangan air. Itu kan ironis,” ungkapnya.

Tag :
Editor : Bambang Supriyanto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top