Membangun Perilaku Hidup Sehat pada Anak Berkebutuhan Khusus: Kuncinya adalah Pembiasaan

Lina Mezalina | 30 Januari 2015 21:45 WIB
Lina Mezalina

Pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Hal ini sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang produktif secara sosial dan ekonomi. Penyelenggaraan pembangunan kesehatan berasaskan perikemanusiaan, keseimbangan, manfaat, perlindungan, penghormatan terhadap hak dan kewajiban, keadilan, gender, nondiskriminatis serta norma-norma agama. Anak berkebutuhan khusus termasuk salah satu sumber daya manusia bangsa Indonesia yang kualitasnya harus ditingkatkan agar dapat berperan, tidak hanya sebagai obyek pembangunan tetapi juga sebagai subyek pembangunan.

Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan menyebutkan bahwa upaya pemeliharaan kesehatan penyandang cacat harus ditujukan untuk menjaga agar tetap hidup sehat dan produktif secara sosial, ekonomi, dan bermartabat. Pemerintah wajib menjamin ketersediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan memfasilitasi penyandang cacat untuk dapat tetap hidup mandiri dan produktif secara sosial dan ekonomi.

Selama dua dekade terakhir istilah penyandang cacat atau anak cacat telahdigantikan dengan istilah anak berkebutuhan khusus.WHO memperkirakan jumlah anak berkebutuhan khusus di Indonesia sekitar 7–10 persen dari total jumlah anak.Tipe anak berkebutuhan khusus bermacam-macam dengan penyebutanyang sesuai dengan bagian karakteristik diri anak yang mengalami hambatan baik telah ada sejaklahir maupun karena kegagalan atau kecelakaan pada masa tumbuh-kembangnya.

Anak berkebutuhan khusus meliputi tunagrahita (mental retardation) atau anak dengan hambatan perkembangan(child with development impairment), kesulitan belajar (learning disabilities) atau anak yang berprestasi rendah, hiperaktif (Attention Deficit Disorder with Hyperactive ), tunalaras (emotional and behavioral disorder), tunarungu wicara (communication disorder and deafness), tunanetra atau anak dengan hambatan penglihatan (partially seing and legally blind), Autism Spectrum Disorder (ASD), tunadaksa (physical handicapped), anak berbakat (giftedness and special talents).

Anak berkebutuhan khusus perlu dikenali dan diidentifikasi dari kelompok anak pada umumnya, karena mereka memerlukan pelayanan yang bersifat khusus, seperti pelayanan medik, pendidikan khusus maupun latihan-latihan tertentu yang bertujuan untuk mengurangi keterbatasan dan ketergantungan akibat kelainan yang diderita, serta menumbuhkan kemandirian hidup dalam bermasyarakat.

Anak berkebutuhan khusus memiliki resiko lebih tinggi untuk terserang penyakit daripada anak pada umumnya. Berbagai macam penyakit atau gangguan kesehatan yang menyerang anak umumnya disebabkan oleh infeksi bakteri dan virus yang berasal dari lingkungan sekitar. Sehingga, salah satu cara untuk menekan masalah ini adalah dengan menghindarkan anak dari lingkungan yang tidak sehat. Orangtua dapat mengajarkan anak pola hidup sehat. Tentu tak mudah dan diperlukan perlakuan khusus serta kesabaran.

Salah satu kunci dalam pembelajaran anak berkebutuhan khusus adalah dengan pembiasaan. Orang tua maupun guru sebagai orang terdekat anak dapat mengajarkan anak tentang pola hidup sehat melalui berbagai macam pembiasaan hidup sehat, seperti pembiasaan perilaku hidup bersih. Orangtua perlu mengajarka dengan sabr dan berulang-ulang hingga anak dapat melakukannya secara mandiri. Perilaku hidup bersih dan sehat dapat dimulai dari kebiasaan-kebiasaan kecil seperti mencuci tanganmenggunakan sabun sebelum makan dan setelah buangair besar serta setelah memegang binatang, kebiasaan menggosok gigi dua kali sehari, serta mandi di pagi dan sore hari.

Mengajarkan berbagai kebiasaan hidup bersih dan sehat kepada anak berkebutuhan khusus memang berbeda. Selain dengan pembiasaan, anak juga perlu diberikan contoh konkrit. Hal ini karena anak berkebutuhan khusus, terlebih berusia dini masih belum bisa berpikir secara abstrak. Selain itu, salah satu sifat perkembangan anak usia dini adalah imitasi, yakni kebiasaan meniru setiap hal yang ia lihat dari orang disekitarnya. Orang tua dapat memberikan contoh yang sederhana namun bermanfaat, misalnya mencuci tangan sebelum makan.

Hal lain yang tak kalah penting adalah memberikan asupan makanan dengan gizi seimbang. Selain memperhatikan komposisi gizi, hal yang perlu diperhatikan adalah keamanan jenis makanan atau minuman yang dikonsumsi oleh anak, misalnya tidak menggunakan bahan penyedap, pengawet dan pewarna buatan. Perlu juga diperhatikan alergi atau diet pada anak. Anak dengan ASD biasanya melakukan diet dengan menghindari bahan makan yang mengandung kasein dan gluten. Orangtua juga perlu membiasakan anak untuk tidak jajan di tempat umum. Memberikan bekal makan kepada anak yang sudah memasuki sekolah adalah sebuah pilihan yang tepat, untuk menghindari berbagai bahaya yang tidak disadari anak.

Orang tua yang ingin membiasakan anaknya yang memiliki kebutuhan khusus untuk hidup bersih dan sehat yang terpenting adalah memperhatikan kebutuhan khusus yang dimiliki oleh anak. Selain itu, jika orangtua ingin anaknya berperilaku hidup bersih dan sehat, maka ia juga harus memiliki perilaku hidup bersih dan sehat. Kesabaran mutlak dimiliki orang tua agar anak dapat meningkat kualitas hidup dan kemandirian anak.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
writing contest

Editor : Setyardi Widodo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top