Kredit Direm, Harga Rumah di Inggris Terus Tumbuh

Langkah Bank of England (BOE) untuk meredam pasar properti diyakini tidak berdampak signifikan dalam jangka pendek. Pasalnya, harga rumah di Inggris terus merangkak naik selama 14 bulan berturut-turut hingga Juni 2014.
Amanda Kusumawardhani | 02 Juli 2014 18:52 WIB
Bendera Inggris. Kredit direm harga rumah terus tumbuh

Bisnis.com, LONDON—Langkah Bank of England (BOE) untuk meredam pasar properti diyakini tidak berdampak signifikan dalam jangka pendek. Pasalnya, harga rumah di Inggris terus merangkak naik selama 14 bulan berturut-turut hingga Juni 2014.

Nationwide Building Society melaporkan nilai rumah naik 1% dari Mei Thaun ini ke rata-rata 188.903 pound (US$323.875).

Kenaikan tersebut dipacu oleh permintaan rumah kalangan menengah ke atas dan investor asing, meningkat hampir 26% pada kuartal II/2014. Nilai rumah nasional juga tumbuh 11,8% pada Juni 2014 month-to-month (mtm)   

Harga rumah terus melesat hingga ke puncaknya pada kuartal II/2007 menyusul perbaikan ekonomi dan rendahnya suku bunga pinjaman.

Untuk mengatasi ancaman gelembung properti, Gubernur BOE sempat merilis beberapa aturan antara lain uji kelayakan bagi nasabah yang ingin mengajukan kredit perumahan.

Usaha itu dilakukan untuk mencegah menumpuknya utang konsumen yang tidak berkelanjutan.  Akibatnya, bank harus membatalkan aplikasi kredit bagi nasabah yang tidak lolos uji kelayakan.

“Keputusan BOE itu tidak berdampak terhadap transaksi penjualan rumah atau laju peningkatan harga pada jangka pendek. Tetapi, langkah BOE setidaknya dapat membatasi risiko harga rumah dari laba yang berlebih tanpa menyeret pemulihan pasar perumahan,” kata Robert Gardner, Ketua Ekonom Nationwide di London, (Rabu (2/7).

Adapun, harga rumah di London tercatat naik 7,6% pada kuartal II/2014 dari kuartal sebelumnya, naik dua kali lipat dari rata-rata harga rumah di Inggris yang hanya 2,9%. Selain itu, rata-rata nilai rumah di London sebesar 400.404 pound atau di atas 30% level tertinggi pada 2007.    

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekonomi inggris

Sumber : Bloomberg
Editor : Ismail Fahmi

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top