Allan Nairn Buka Wawancara Off The Record Prabowo. Ini Alasannya

Dalam etika jurnalistik membuka off the record adalah sebuah kesalahan besar, melanggar etika. Tapi menurut Allan, untuk kasus seperti Prabowo, adalah sebuah pengecualian.
Wan Ulfa Nur Zuhra | 02 Juli 2014 11:21 WIB
Prabowo Subianto - JIBI

Bisnis.com, JAKARTA - Beberapa waktu lalu, seorang wartawan investigasi asal Amerika Serikat, Allan Nairn membuka wawancara off the record-nya dengan Prabowo Subianto dalam sebuah tulisan di blognya berjudul "Do I have the guts," Prabowo asked, "am I ready to be called a fascist dictator?"

Dalam tulisan itu, Allan membuka pernyataan-pernyataan off the record Prabowo. Beberapa orang di media sosial kemudian mempertanyakan profesionalitas Allan sebagai wartawan. Menurut mereka, Allan telah melanggar etika jurnalisme dengan membuka wawancara off the record itu.

Dalam etika jurnalistik membuka off the record adalah sebuah kesalahan besar, melanggar etika. Tapi menurut Allan, untuk kasus seperti Prabowo, adalah sebuah pengecualian.

“Saya tahu ini melanggar etika jurnalisme, tapi ada masalah yang lebih besar. Ada orang yang akan naik sebagai presiden Indonesia, orang yang langsung bilang ke saya kalau dia ingin Indonesia dipimpin oleh diktator fasis,” kata Allan dalam sebuah diskusi terbatas di Jakarta, Selasa malam (1/7/2014).

Allan menyimpan fakta yang dia ketahui selama 13 tahun, sejak dia mewawancarai Prabowo pada 21 Juni dan 2 Juli 2001 karena masih ingin menjaga etika profesinya.

“Saya tidak katakan ini sejak dulu, karena memang ini off the record, tapi sekarang situasinya berbeda. Ini situasi ekstrim, berbahaya,” katanya.

Allan melanjutkan, off the record  biasanya tidak dibuka untuk melindungi narasumber yang dalam kondisi berbahaya. Misalnya, bawahan yang membuka korupsi atasannya, atau orang-orang kecil yang terancam.

“Ini situasi ekstrim,” imbuhnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
prabowo subianto

Editor : Yusran Yunus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top