Neraca Perdagangan Nasional Defisit, di Sulsel Justru Surplus

Necara perdagangan provinsi Sulut pada April 2014 mengalami surplus US$74,90 juta.
Thomas Mola | 02 Juni 2014 16:22 WIB
Ilustrasi - Bisnis.com

Bisnis.com, MANADO - Necara perdagangan provinsi Sulut pada April 2014 mengalami surplus US$74,90 juta.

Hal itu menyebabkan secara kumulatif, neraca perdagangan Sulut memertahankan tren surplus. Hingga April, necara perdagangan Sulut tercatat mengalami surplus sebesar US$317,93 juta.

Kepala BPS Sulut Faizal Anwar surplus perdagangan terjadi karena meningkatnya permintaan terhadap produk andalan Sulut yakni lemak dan minyak hewani/ nabati. Komoditi andalan itu memiliki share 64,74% dari total ekspor secara kumulatif.

"Berbeda dengan nasional yang desisit, neraca perdagangan Sulut terus menunjukkan tren peningkatan. Permintaan produk ikan dan kelapa dari beberapa negara terus meningkat," ujarnya di Manado, Senin (2/6/2014).

Anwar menuturkan baik ekspor ataupun impor pada April mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Ekspor Sulut pada Arpil tercatat sebesar US$ 95,95 juta atau meningkat dari Maret yang sebesar US$92,79 juta.

Untuk impor, Provinsi Nyiur Melambai pada April tercatat sebesar US$21,02 juta atau meningkat dari bulan sebelumnya sebesar US$11,06 juta. Hal ini menyebabkan surplus pada April lebih kecil jika dibandingkan dengan Maret yang mencapai US$81,73 juta.

"Secara kumulatif ekspor Sulut hingga April 2014 sebesar US$381,55 juta. Ekspor tahun ini tumbuh 26,89% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang sebesar US$300,69 juta," paparnya.

Anwar melanjutkan negara yang menjadi tujuan ekspor utama komoditas asal Sulut ialah Belanda, Amerika Serikat, China, dan Korea Selatan. Cina dan Amerika Serikat juga menjadi negara asal impor bersama Singapura dan Australia.

"Sulut banyak mengimpor mesin-mesin mekanik. Biasanya mesin untuk penangkapan ikan," jelasnya.

BPS mencatat impor mesin-mesin mekanik meningkat dari US$2,99 juta pada Maret menjadi US$12,60 juta pada April. Peningkatan impor juga terjadi untuk besi dan baja yang naik dari US$ 0,47 juta menjadi US$1,09 juta.

Adapun, golongan barang yang mengalami penurunan impor ialah kapal laut yang turun dari US$6,70 juta pada Maret menjadi US$0,33 juta pada April.

Anwar menjelaskan aktivitas ekspor Sulut paling banyak terjadi melalui Bitung International Hub. Ekspor melalui Bitung pada April tercatat sebesar US$62,99 juta atau memiliki share 65,67% terhadap total nilai ekspor Sulut.

"Ekspor juga dilakukan melalui pelabuhan lain di luar Sulut seperti Tanjung Perak, Soekarno-Hatta dan Ngurah Rai, Bali," paparnya.

Tag : ekspor
Editor : Sepudin Zuhri

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top