Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Hamdi Muluk: Sosialisasi Capres-Cawapres Singkat, Kualitas Demokrasi Buruk

Belum adanya kepastian siapa calon wakil presiden yang diusung parpol dinilai tidak baik untuk perkembangan demokrasi.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 24 April 2014  |  15:54 WIB
Ilustrasi-Maskot pemilu - kpu.go.id
Ilustrasi-Maskot pemilu - kpu.go.id

Bisnis.com, JAKARTA -- Belum adanya kepastian siapa calon wakil presiden yang diusung parpol karena masih menunggu koalisi partai dan hasil rekapitulasi suara di Komisi Pemilihan Umum dinilai tidak baik untuk perkembangan demokrasi.

Menurut pakar psikologi politik dari Universitas Indonesia, Hamdi Muluk, menjadi lucu jika ada wacana untuk menanyakan pendapat orang siapa yang pantas menjadi cawapres dari capres yang sudah diusung parpol peserta pemilu saat ini.

Hamdi menyayangkan hingga kini, baik Joko Widodo (Jokowi) dari PDIP maupun Prabowo Subianto dari Partai Gerindra dan Aburizal Bakrie dari Partai Golkar sama-sama belum punya cawapres. Padahal, waktu yang tersisa menjelang pemilihan presiden tidak sampai tiga bulan.

"Karena sejauh ini dengan sistem yang kita punya, konfigurasi capres-cawapres diketahui setelah pemilihan anggota legislatif. Kalau dari tradisi pembelajaran politik, ini buruk," kata Hamdi dalam diskusi bertema Memilih Cawapres yang Tepat, di Gedung DPR, Kamis (24/4/2014).

Selain Hamdi turut menjadi nara sumber peneliti senior LIPI Siti Zuhro dan Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah Laode Ida.

Menurut Hamdi, seharusnya satu atau dua tahun masyarakat sudah mengetahui siapa capres maupun cawapresnya sehingga isu yang menjadi sorotan beralih ke platform yang diajukan.

Dengan adanya platform itu, setidaknya setahun sebelum pemilihan presiden, masyarakat bisa mengikuti jajak pendapat sehingga bisa diketahui hasilnya.

“Waktu antara Mei hingga pemilihan presiden Juli mendatang sangat singkat bagi masyarakat untuk mengetahui visi, misi dan program pasangan capres-cawapres,” ujar Hamdi.

Menurut dia, capres saat ini lebih ditentukan oleh tingkat popularitasnya. Dia menuturkan jika hanya mengandalkan popularitas, maka banyak juga tokoh yang populer tapi kelakuannya macam-macam.

"Sekarang ini yang populer sebagai presiden cenderung dipilih. Sekarang semua calon belum berani ngomong karena belum definitif. Seharusnya capres bisa jauh-jauh hari sehingga bisa dinilai secara fair apa yang ditawarkan," katanya.

 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pilpres 2014
Editor : Saeno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top