Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

PILPRES 2014: Partai Politik Saling Mengintip Kartu Lawan

Ibarat permainan kartu, para elite partai kini sibuk saling mengendus dan mendeteksi gerak langkah lawan.
Tomy Sasangka
Tomy Sasangka - Bisnis.com 21 April 2014  |  08:22 WIB
   Tommy Sasangka
Tommy Sasangka

Bisnis.com, JAKARTA--Setelah PDI Perjuangan mendapat mitra koalisi Partai Nasdem dan memastikan Joko Widodo alias Jokowi bisa mendapatkan tiket calon presiden, hingga kini belum ada kandidat capres lain yang meraih komitmen dukungan memadai seperti Jokowi.

Meski capres Partai Gerindra Prabowo Subianto pada Jumat (18/4/2014) mendapatkan dukungan resmi Partai Persatuan Pembangunan (PPP), tambahan suara itu belum memadai untuk melaju ke bursa Pilpres 9 Juli 2014.

Merujuk hitung cepat, gabungan suara Gerindra-PPP baru sekitar 18%, padahal syarat minimal 25%. Kalaupun dikonversi menjadi kursi DPR, total kursi dua partai itu diduga masih kurang dari 112 kursi atau 20% dari total 560 kursi DPR. Paling tidak Prabowo membutuhkan satu
partai tengah lagi untuk mengamankan pencapresannya.

Di sisi lain, dukungan PPP juga relatif tidak solid. Manuver Ketua Umum PPP Suryadharma dkk itu memicu resistensi di antara para elite partai tersebut, menyusul aksi pemecatan yang dilakukan Suryadharma. Kubu Romahurmuziy—Sekjen PPP yang dirotasi Suryadharma—menggelar rapat pimpinan nasional pada Sabtu (19/4) malam hingga Minggu (20/4) dini hari, dan menegaskan dukungan PPP ke Prabowo belum final. Belum jelas benar akhir drama di tubuh partai berlambang Kakbah ini.

Lalu apa kabar dengan Aburizal Bakrie? Capres Partai Golkar ini bertemu Mahfud MD, salah satu kandidat capres Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Bali pada Sabtu lalu. Belum ada pembicaraan serius soal kemungkinan duet Aburizal-Mahfud.

Pencapresan Aburizal alias Ical alias ARB—sebutan resmi untuk Pemilu 2024—juga tak sepi dari goyangan beberapa elemen Golkar. Mereka yang menyerukan evaluasi pencapresan Ical merujuk raihan suara Golkar yang hanya di kisaran 14%--jauh dari target 30%. Partai beringin akan menggelar rapat pimpinan nasional dalam waktu dekat.

Soal koalisi, kabarnya Golkar akan menggandeng Partai Hanura. Isu ini sempat dilontarkan beberapa petinggi Golkar. Namun, sejauh ini, belum ada konfirmasi meyakinkan tentang kecenderungan koalisi dua partai tersebut. Disebut-sebut, prediksi raihan kursi dua partai itu cukup untuk mendukung pencapresan Ical.

Sementara itu, kabar mutakhir dari Partai Demokrat—peringkat keempat peraih suara terbanyak setelah PDIP, Golkar dan Gerindra versi hitung cepat—hanya memastikan partai yang dipimpin Susilo Bambang Yudhoyono ini bertekad meneruskan agenda konvensi capres. Selebihnya, partai ini cenderung wait and see dan menjauhi hiruk pikuk di tingkat elite.

Sebelumnya, Amien Rais—motor koalisi poros tengah pada Sidang Umum MPR 1999 yang berhasil mendorongkan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjadi presiden di tengah suasana rivalitas pendukung Megawati Soekarnoputri dan BJ Habibie—kembali menggagas format koalisi sejenis menghadapi Pilpres 2014.

Ketua Majelis Pertimbangan Pusat (MPP) Partai Amanat Nasional (PAN) itu menawarkan koalisi Indonesia Raya. Koalisi tersebut, kata Amien, tidak ada hubungannya dengan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). Koalisi itu juga diklaim lebih baik daripada koalisi poros tengah, yang hanya diisi partai-partai Islam atau berbasis massa Islam. Koalisi Indonesia Raya, kata Amien, mesti melibatkan partai nasionalis.

Pertanyaannya, mungkinkah bakal lahir koalisi alternatif sebagai tindak lanjut upaya penggalangan kerja sama antarpartai Islam tersebut, sekaligus memajukan duet caprescawapres di luar kecenderungan yang mengemuka selama ini?

Dari hitung cepat hasil Pemilu Legislatif 9 April lalu, gabungan suara 5 partai Islam atau berbasis massa Islam itu lebih dari 31%. Jumlah ini lebih dari cukup untuk menembus presidential threshold atau ambang batas persyaratan suara minimal pengajuan duet caprescawapres.

Koalisi antarpartai Islam sesungguhnya sangat potensial. Dari beberapa pemberitaan, sejumlah politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) cenderung mengusulkan agar partai-partai Islam mengusung capres-cawapres sendiri. Sementara itu, beberapa partai seperti PAN dan PKB belum memberikan sinyal dukungan kuat untuk ide tersebut.

Seandainya koalisi partai-partai Islam itu berlanjut—minus PPP—persoalan terbesar tentu saja terkait dengan figur capres-cawapres yang akan diusung. Persoalan ini tentu tidak mudah diselesaikan, meski bukan berarti peluang untuk itu tidak tersedia, misalnya lewat konvensi.

Atau pilihan lainnya, koalisi antarpartai Islam dijadikan alat tawarmenawar kepada kandidat capres seperti Jokowi atau Prabowo atau bahkan Ical. Tidak diragukan lagi, dukungan massa pendukung partai-partai itu akan sangat menentukan kecenderungan siapa yang bakal
memenangkan hajatan pilpres.

Massa besar nahdliyin di PKB atau massa Muhammadiyah yang diduga banyak menyumbang suara PAN tentu memengaruhi hitung-hitungan siapa capres yang berpeluang menggapai kursi kepresidenan.

Ibarat permainan kartu, para elite partai kini sibuk saling mengendus dan mendeteksi gerak langkah lawan.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pilpres 2014 tomy-kolom

Sumber : Bisnis Indonesia edisi Senin (21/4/2014)

Editor : Setyardi Widodo

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top