PEMILU 2014: Hindari Penggunaan Simbol Agama Secara Parsial

Kementerian Agama mengingatkan meskipun penyelenggaraan Pemilu 2014 bukan wilayah agama tetapi agama-agama harus bersikap netral.
Rustam Agus | 02 April 2014 15:03 WIB

Bisnis,com, JAKARTA--Kementerian Agama mengingatkan meskipun penyelenggaraan Pemilu 2014 bukan wilayah agama tetapi agama-agama harus bersikap netral.

"Tidak memberi ruang kepada kelompok mana pun untuk menggunakan dan menafsirkan simbol-simbol ajaran agama secara parsial dan sewenang-wenang demi kelompok tertentu,” kata Wakil Menteri Agama Nasaruddin Umar seperti dikutip laman Kemenag, Rabu (2/4/2014)

Menurutnya, seruan mejelis agama-agama agar Pemilu 2014 dapat berlangsung jujur, adil  dan damai selain dimaksudkan memperkuat kerukunan bangsa yang mejemuk juga mendorong umat agar menjadi pemilih cerdas dan rasional.

Nasaruddin mengatakan hal itu usai menyaksikan penandatangan para pimpinan dari majelis agama-agama se-Indonesia di Hotel Borobudur, Rabu.

Hadir pada saat itu utusan dari pimpinan majelis tinggi agama Konghuchu (Matakin) Wawan Wiratma, dari Walubi diwakili oleh Suhadi Sanjaya, Ketua Pengurus Harian Parisada (PHDI) Pusat Mayjen TNI (Purn) S.N. Suwisma, Sekretaris Eksekutif Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) Romo Edy Purwanto, Gomar Gultom Sekretaris Persatuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI) dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) diwakili oleh Saifullah Maksum.

Para wakil mejelis-majelis agama tersebut kemudian menandatangani seruan dengan disaksikan Wakil Menteri Agama Nasaruddin Umar, Sekjen Kemenag Bahrul Hayat dan Kepela PKUB Mubarok. Seruan tersebut dibacakan Suhadi Sanjaya.

Menafsirkan simbol agama secara sewenang-wenang, menurut Nasaruddin, dapat merusak citra agama dan komunitas keagamaan.
Cara itu juga dapat mengganggu nama baik partai politik bersangkutan.

Lebih dari itu, penggunaan simbol keagamaan dan pemanfaatan fasilitas agama bagi mobilitasi politik dapat merusak tatanan sosial yang sudah dibangun, serta dapat mengganggu semangat persatuan, solidaritas dan kerukunan umat beragama.

Di tengah kuatnya isu politik uang, black campaign, pimpinan majelis agama mendorong umat menjadi pemilih yang cerdas.

Karena itu, inisiatif seruan dari majelis agama itu dapat menjadi pertimbangan bagi seluruh umat beragama untuk menggunakan hak pilih sebagai bentuk kepedulian dan rasa tanggung jawab terhadap masa depan bangsa dan negara.

“Inisiatif pimpinan majelis agama agar Pemilu 2014 sukses harus disikapi secara arif sebagai kepedulian segenap lembaga-lembaga agama terhadap masa depan bangsa yang ber-bhinneka Tunggal Ika, multi etnis, dan multikultural,” kata Nasaruddin.

Seruan itu, lanjut Wamenag, harus dibaca sebagai komitmen dan kepedulian yang sungguh-sungguh dari pimpinan majelis agama untuk menghindari kemungkinan munculnya konflik yang dapat merusak kohesi sosial dan suasana kerukunan yang telah terbangun kokoh saat ini.

Wamenag berharap pesta demokrasi dapat berfungsi sebagai jembatan emas bagi semakin kokohnya kerukunan antarumat, semakin tegaknya solidaritas antar-agama, serta semakin kuatnya rasa kesatuan dan persatuan antar segenap komponen bangsa.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pemilu 2014

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top