Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pilpres 2014: Jokowi-ARB atau Jokowi-Wiranto Berpeluang

Munculnya figur Joko Widodo alias Jokowi sebagai calon presiden dari PDIP memunculkan kembali fenomena Susilo Bambang Yudhoyono dan Partai Demokrat yang mampu membuat sejumlah partai berbasis Islam merapat untuk ikut berkoalisi.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 19 Maret 2014  |  12:02 WIB
Dari kiri ke kanan: Wiranto, Jokowi, Aburizal Bakrie - Antara
Dari kiri ke kanan: Wiranto, Jokowi, Aburizal Bakrie - Antara

Bisnis.com, JAKARTA—Munculnya figur Joko Widodo alias Jokowi sebagai calon presiden dari PDIP memunculkan kembali fenomena Susilo Bambang Yudhoyono dan Partai Demokrat yang mampu membuat sejumlah partai berbasis Islam merapat untuk ikut berkoalisi.

Demikian dikemukakan pengamat politik yang juga Direktur Eksekutif Pol-Tracking Institute Hanta Yudha menanggapi penunjukan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo sebagai calon presiden dari PDIP.

Dengan munculnya fenomena tersebut, Hanta menilai kemungkinan besar akan ada tiga capres yang bersaing pada pilpres 2014.

Ketiga capres itu adalah Jokowi, Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie, dan Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto.

Pada Pemilu 2004, sejumlah partai berbasis Islam seperti PBB , PPP, PAN, PKB dan PKS ikut mendukung capres SBY dan sejumlah kadernya duduk di kabinet Indonesia Bersatu jilid I.

“Pertimbangan kekuatan figur dengan elektabilitas tinggi seperti SBY pada 2004 muncul kembali menjelang pilpres 2014,” ujar Hanta saat dihubungi, Rabu (19/3/2014).

Dalam konteks itu, Hanta menilai hampir tidak mungkin bagi partai berbasis Islam memunculkan figur capres. Peluang yang lebih mungkin adalah untuk cawapres.    

Terkait konstelasi persaingan capres, Hanta menilai koalisi PDIP dan Golkar dengan mengusung Jokowi-ARB dan PDIP-Hanura dengan memajukan Jokowi-Wiranto sangat terbuka ketimbang PDIP-Gerindra.

“Hampir mustahil, pasangan Jokowi-Prabowo diajukan PDIP-Gerindra karena selain ada persoalan selisih pendapat soal perjanjian Batu Tulis, Prabowo sudah berkali-kali maju ke pilpres sehingga hampir pasti tak akan mau jadi cawapres."

Namun demikian, Hanta menilai konstelasi pilpres akan ditentukan oleh hasil pemilu legislatif pada 9 April mendatang.

Sehingga, lanjut dia, masih terlalu dini untuk mereka-reka siapa yang akan maju menjadi capres.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

jokowi wiranto arb
Editor : Saeno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top