Kinerja Manufaktur Terkontraksi, Ekonomi China Melambat

Indeks manufaktur China merosot ke level terendah selama 8 bulan terakhir pada Februari 2014 sehingga makin menambah tantangan bagi Perdana Menteri China Li Keqiang untuk memetakan strategi ekonomi pemerintah.
Amanda Kusumawardhani | 02 Maret 2014 22:24 WIB

Bisnis.com, HONG KONG—Indeks manufaktur China merosot ke level terendah selama 8 bulan terakhir pada Februari 2014 sehingga makin menambah tantangan bagi Perdana Menteri China Li Keqiang untuk memetakan strategi ekonomi pemerintah.

Badan Pusat Statistik China (BPS) dan Federasi Logistik dan Pembelian mencatat indeks Purchasing Manager (PMI) berada pada 50,2, lebih rendah dibandingkan denganbulan sebelumnya 50,5. Meskipun sedikit terkoreksi, indeks di atas 50 masih menunjukkan ekspansi.

“Melambatnya pertumbunan manufaktur dipicu oleh menurunnya investasi, terutama kredit infrastruktur dan investasi real estate,”ungkap Louis Kuijs, Ketua Ekonom Royal Bank of Scotland Plc di Hong Kong, Minggu (2/3/2014).

Namun, dia meyakinkan perlambatan manufaktur China tidak perlu dikhawatirkan karena pemerintah memiliki ruang lebih untuk memastikan stabilitas pertumbuhan ekonomi tahun ini sekaligus menjaga kestabilan keuangan.

Data tersebut sekaligus menambah tantangan pemerintah untuk menjaga laju ekspansi ekonomi di atas 7%. Pada waktu yang sama, China juga harus mengimplementasikan kebijakan guna mengendalikan kredit dan kapasitas yang berlebihan.

Pada laporan tersebut, indeks output tergerus menjadi 52,6 pada Februari tahun ini dari 53 pada bulan sebelumnya, sedangkan sub indeks pesanan baru juga merosot dari 50,9 menjadi 50,5. Level pesanan baru menunjukkan angka di bawah 50 selama 3 bulan berturut-turut sehingga mengindikan kontraksi.

PMI untuk perusahaan-perusahaan berskala besar mencatat penurunan menjadi 50,7 dari 51,4 pada bulan sebelumnya dan indeks manufaktur usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) juga terkontraksi.  

Mata uang China Yuan bahkan tergerus terhadap dolar AS pada Februari tahun ini, menembus rekor tertinggi. Akibatnya, investor mulai mengkhawatirkan volatilitas ekonomi yang mengancam pasar keuangan.

Indeks saham China merosot 2,7% minggu lalu, penurunan terbesar selama 7 minggu di tengah kekhawatiran ekspansi ekonomi akan melambat.

Pasalnya, jika ekonomi melambat, bank sentral diprediksi akan melonggarkan kebijakan kredit dan depresiasi Yuan bakal meningkatkan risiko aliran modal keluar.

Sumber : Bloomberg/Reuters

Tag : ekonomi china
Editor :

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top